Pada Liga Champions musim ini, PSG gagal setelah takluk dengan agregat 2-3 dari Real Madrid di babak 16 besar.
Kekalahan tersebut membuat PSG untuk kesekian kalinya di bawah kepemimpinan Presiden Nasser Al-Khelaifi, gagal berjaya di panggung Eropa.
Sejak dipimpin Nasser Al-Khelaifi pada 2011, PSG sudah 10 kali lolos ke fase gugur Liga Champions. Namun, Les Parisiens kerap kandas di babak 16 besar dan perempat final.
Kegagalan terakhir di Liga Champions 2021-2022 tak lagi bisa diterima oleh para suporter PSG. Mereka marah hingga melakukan sejumlah aksi protes dalam laga kontra Bordeaux.
Polisi Dikerahkan
Ultras PSG yang tergabung dalam Collectif Ultras Paris (CUP) memang berencana menjadikan laga melawan Bordeaux sebagai panggung protes terhadap kegagalan di Liga Champions.
Hal itu diketahui berdasarkan pernyataan tegas di akun Twitter CUP.
“PSG kami layak mendapatkan orang-orang yang melayani, bukan dilayani. Melawan Bordeaux pada hari Minggu, kami akan menunjukkan ketidaksenangan kami dan kami meminta semua orang yang mencintai klub ini, yang akan hadir, untuk bersatu dengan aksi tanpa kekerasan kami,” demikian pernyataan CUP melalui akun Twitter mereka.
Rencana protes itu kemudian menjadi perhatian pihak keamanan setempat. RMC Sport melaporkan bahwa ada sekitar 250 personel polisi yang dikerahkan sebagai langkah antisipasi terhadap potensi kerusuhan.
Niat protes yang diserukan CUP bukanlah sekadar wacana. Ketika pertandingan berlangsung, ultras PSG yang duduk di tribune Auteuil Stadion Parc des Princes kompak menyerukan “dirigeants demission (para petinggi mundurlah)”.
Melalui seruan tersebut, Ultras PSG dipercaya menuntut petinggi PSG untuk mundur, termasuk Presiden Nasser Al-Khelaifi dan Direktur Olahraga klub, Leonardo Araujo.







