5 Fakta yang Membuat Ukraina Bisa Bertahan 3 Pekan Digempur Raksasa Rusia

Pelatihan, drone, dan senjata antitank yang disediakan oleh negara-negara NATO jiga telah membantu Ukraina ‘mengganggu’ konsentrasi Rusia sehingga menempatkan perwira senior Rusia dalam titik medan perang yang berbahaya.

Efektivitas Bantuan Senjata dari AS dan Barat

Ukraina juga mendapat pasokan bantuan senjata militer dari negara Eropa lain seperti Amerika Serikat (AS) hingga Jerman. Teranyar, Presiden Amerika Serikat Joe Biden mengirimkan bantuan persenjataan senilai 800 juta dolar AS atau sekitar Rp11,4 triliun untuk Ukraina.

Namun demikian, pejabat AS tak memberikan rincian meliputi apa saja bantuan terbaru yang akan diberikan ke Ukraina. Ia hanya mengatakan negaranya menjadi pendonor terbesar ke negara eks Uni Soviet itu.

Bantuan itu bukan kali pertama dari AS. Sebelumnya, Biden juga telah mengesahkan bantuan peralatan militer tambahan senilai US$200 juta atau sekitar Rp2,8 triliun. Pada 26 Februari, AS juga mengesahkan bantuan ke Ukraina senilai US$350 juta atau sekitar Rp5 triliun.

AS juga tercatat pernah menyediakan lebih dari 600 rudal Stinger, 2.600 sistem anti-tank Javelin, sistem radar, helikopter, peluncur granat, senjata, amunisi dan peralatan lain pada 2021 lalu.

Pemerintah Jerman juga mengirim misil anti-pesawat ke Ukraina untuk mengimbangi serangan roket jet tempur Rusia pada awal Maret lalu. Mengutip AFP, total misil yang akan dikirim Jerman ke Ukraina sebanyak 2.700 unit.

Sebelumnya, Jerman juga memberikan bantuan senjata anti-tank dan 500 misil pertahanan udara kepada Ukraina untuk membendung serangan Rusia. Selain itu Jerman juga menyetujui pengiriman 400 peluncur roket anti-tank melalui Belanda ke Ukraina.

Moral Pasukan Rusia Melemah

Sejumlah tentara Rusia yang ditangkap pihak berwenang Ukraina sebelumnya meminta agar Presiden Vladimir Putin segera menyetop invasi ke negara itu. Dalam konferensi pers, mereka mengaku telah melakukan tindak kejahatan di negara Eropa Timur itu.

Pernyataan tawanan lebih dari hal-hal tersebut menunjukkan mereka berada dalam situasi yang sulit karena mereka mendapat tekanan. Namun, kemungkinan mereka merasa tertekan untuk mengungkapkan pandangan simpatinya terhadap kondisi di Ukraina.

Sebuah video baru-baru ini menunjukkan dua orang Ukraina dengan hati-hati menjinakkan bom serupa di sebuah kota di Ukraina utara, Chernihiv.

“Saya menyadari besarnya kejahatan yang dilakukan oleh saya,” kata salah satu tawanan.

“Saya ingin meminta pengampunan dari seluruh rakyat Ukraina atas kemalangan yang kami bawa kepada mereka. Saya akan melakukan segala daya upaya saya untuk mengakhiri perang ini secepat mungkin, dan membawa mereka yang bertanggung jawab atas genosida Ukraina ini ke pengadilan,” lanjutnya.

Selain itu, semangat pasukan Moskow tak melonjak ditambah banyak korban dari pihak mereka termasuk empat jenderal yang tewas. Sikap Ukraina yang disebut ‘lembut’ saat menangani tawanan Rusia juga menjadi pemicu mereka bersimpati. Namun, Ukraina dinilai bisa saja keras jika Moskow menyerang membabi buta.