Pengamat di Brookings Institution, Tom Pepinsky, mengatakan bukti sejauh ini menunjukkan perlakuan Ukraina terhadap tawanan perang Rusia bisa menjadi lebih keras karena Moskow semakin mendesak ke negara itu.
“Perlawanan Ukraina akan paling efektif jika Rusia gelisah, tidak bisa tidur, dan cenderung bereaksi berlebihan,” katanya.
Masalah Stok Logistik Pasukan Rusia
Inggris mengklaim bahwa pasukan Rusia mulai kekurangan makanan dan bahan bakar di tengah serangan ke Ukraina. Invasi Rusia pun disebut mulai goyah. Kementerian Pertahanan Inggris menyatakan, perlawanan keras Ukraina membuat pasukan Rusia kewalahan, bahkan sampai kesulitan memasok kebutuhan dasar seperti makanan dan bahan bakar.
Selain itu, Kemhan Inggris juga menganggap pasukan Rusia kesulitan bergerak karena hingga kini, mereka belum menguasai wilayah udara Ukraina. Akibatnya, pasukan Rusia tak kunjung dapat menguasai Kyiv.
“Kesulitan bermanuver menembus perbatasan, tak ada kendali atas udara, dan kemampuan yang terbatas membuat Rusia kesulitan memasok tentara mereka dengan kebutuhan esensial, seperti makanan, obat-obatan, dan bahan bakar,” demikian pernyataan Kemhan Inggris yang dikutip CNN.
Kesolidan Para Pejuang Ukraina
Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky, memilih tetap tinggal di Kyiv meskipun keamanan dirinya terancam. Namun, hal ini justru turut menumbuhkan solidaritas nasional saat Rusia terus mengepung negara itu. Ukraina telah menunjukkan ketahanannya di tengah kesulitan yang menerjang.
Fakta itu juga tercermin saat banyak warga sipil yang mengajukan diri berada di garis depan melawan Rusia, setelah memastikan keluarga mereka aman menuju perbatasan. Lebih dari 320 ribu warga Ukraina dengan mayoritas laki-laki telah kembali untuk membantu Ukraina berperang melawan pasukan militer Rusia.
Foto-foto yang beredar di media sosial menunjukan orang-orang membuat bom molotov, atau petani yang berhasil mencuri tank militer Rusia.
editor : NMD
sumber : CNN Indonesia








