4 BUMN akan Dibubarkan Erick Thohir, dari Merpati hingga PANN, Ini Profilnya

Pada 1975, perusahaan negara itu berubah menjadi persero, dengan Direktur Utama Ramli Sumardi.

Tercatat, sejak 26 Oktober 1978, Merpati Nusantara Airlines menjadi anak perusahan Garuda Airways.

Dengan demikian, terjadi pengalihan penguasaan modal negara dari MNA kepada Garuda.

Tidak bernasib mujur, maskapai ini mengalami masalah keuangan dan terlilit banyak utang. Tercatat, MNA menanggung utang sebesar Rp 10,95 triliun.

Kemudian MNA mendapat suntikan dana Rp 6,4 triliun dari Intra Asia Corpora dan bantuan dari sepuluh BUMN.

Meski begitu, MNA belum mendapat izin untuk melayani penumpang dan hanya diperbolehkan untuk pengantaran kargo untuk Indonesia bagian timur.

2. PT Istaka Karya

Dikutip dari Kompas.com, Jumat (18/3/2022), Istaka Karya adalah perusahaan negara yang berkantor pusat di Graha Iskandarsyah, Jalan Iskandarsyah Raya Nomor 66, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

Perusahaan ini berdiri sebagai perusahaan konstruksi konsorsium pada 1979 dengan nama PT Indonesian Consortium of Construction Industries (ICCI).

Tak lama setelah itu, Istaka Karya tergabung dalam BUMN dan berubah nama menjadi PT Istaka Karya (Persero).

Dalam tugasnya, PT Istaka Karya (Persero) menangani proyek-proyek di beberapa daerah, terutama proyek pemerintah.

Sejumlah proyek yang sempat digarap Istaka Karya yakni reklamasi Bitung Manado, Plaza Batamindo, hingga kereta bandara YIA.

Istaka juga dikenal dengan beberapa proyek fly over di beberapa daerah.

Sebagai BUMN karya, nama Istaka Karya sendiri memang kurang populer. Dari sisi aset dan jumlah proyek, Istaka Karya jauh tertinggal dibandingkan BUMN konstruksi lainnya.

Istaka Karya juga mengalami kondisi sulit pada 2019 dan 2020.

Pada 2019 yang merupakan tahun politik membuat perusahaan susah mendapatkan proyek. Pasalnya, banyak tender proyek yang ditunda sampai pemilu berakhir.

Pada 2020 yang merupakan awal pandemi Covid-19 menyebabkan seluruh tatanan yang ada di Indonesia, baik itu bidang ekonomi maupun lainnya, jadi terdampak.

Memasuki 2021, serikat pekerja menyatakan bahwa perusahaan perlahan-lahan telah bangkit dari keterpurukan. Gaji pegawai yang tadinya sempat tertunggak sembilan bulan, juga sudah terbayarkan.

3. PT Kertas Leces

Dilansir dari Kompas.com (11/12/2019), PT Kertas Leces adalah salah satu BUMN yang bertugas memproduksi kertas di Indonesia.

Selama beroperasi, PT Kertas Leces menderita kerugian dan memiliki total tagihan sebesar Rp 2,124 triliun atas 431 kreditor.

Sebanyak 15 karyawannya pun mengajukan permohonan pembatalan homologasi (kesepakatan perdamaian).

Namun, perusahaan tersebut diputus pailit atau bangkrut oleh Pengadilan Niaga Surabaya pada 25 September 2018.

4. PT Pembiayaan Armada Niaga Nasional (PANN)

Dilansir dari Kompas.com (21/2/2020), PT PANN didirikan pada 1974, dan dikhususkan untuk melakukan usaha di bidang pengembangan armada niaga nasional.

Perusahaan ini tidak hanya menyediakan dan mengoperasikan armada niaga dan jasa pengadaan kapal saja, melainkan menjadi perantara pengadaan kapal dan perdagangan di bidang armada niaga.

Kantor pusatnya berada di Jalan Cikini IV, Jakarta Pusat.

Perseroan tersebut memiliki usaha telekomunikasi navigasi maritim dan jasa pelayaran untuk usaha jasa sektor maritim.