MAU TAHU, Apa Saja Kesalahan Militer Rusia dalam Invasi ke Ukraina?

Sebagian besar analis militer berasumsi bahwa pasukan Rusia lebih mudah menguasai lewat udara, tapi ternyata tidak. Pertahanan udara Ukraina masih terbukti efektif, sehingga membatasi kemampuan Rusia untuk bermanuver.

Moskwa mungkin juga menganggap pasukan khususnya akan berperan penting serta membantu memberi pukulan yang cepat dan signifikan pada Ukraina.

Seorang pejabat senior intelijen Barat mengatakan kepada BBC bahwa Rusia berpikir mereka bisa mengerahkan unit-unit ujung tombak seperti Spetsnaz serta pasukan terjun payung VDV untuk melenyapkan sejumlah kecil perlawanan, lalu kemudian selesai.

Namun pada hari-hari awal invasi, serangan helikopter Rusia di Bandara Hostomel -yang berlokasi di sekitar ibu kota Kyiv—berhasil digagalkan, sehingga menghalangi Rusia untuk menambah pasukan militer beserta peralatan dan logistiknya.

Oleh sebab itu, Rusia harus menyalurkan mayoritas pasokannya melalui jalur darat. Hal ini menyebabkan kemacetan dan titik-titik kemacetan ini menjadi sasaran empuk bagi pasukan Ukraina untuk menyergap.

Beberapa kendaraan lapis baja telah keluar dari jalur, terjebak dalam lumpur, menegaskan gambaran mengenai pasukan yang telah “macet”.

Sementara itu, konvoi panjang kendaraan lapis baja Rusia dari arah utara, yang tertangkap oleh citra satelit, masih gagal mengepung Kyiv.

Kemajuan yang paling signifikan tampak dari arah selatan, di mana Rusia bisa menggunakan jalur kereta api untuk memasok pasukannya.

Menteri Pertahanan Inggris Ben Wallace mengatakan kepada BBC bahwa pasukan Rusia telah kehilangan momentum.

“Mereka terjebak dan bergerak lambat, tapi tentunya tetap memakan korban yang signifikan.”

Kerugian dan kekuatan moral yang menurun

Tank tercanggih milik Rusia, T-14 Armata muncul di parade di Moskwa, tapi tidak pernah tampak di medan perang.(GETTY IMAGES via BBC INDONESIA)

Rusia telah mengumpulkan sekitar 190.000 tentara untuk invasi ini, dan sebagian besar dari tentara itu telah berkomitmen untuk bertempur. Namun mereka telah kehilangan sekitar 10 persen dari kekuatan itu.

Tidak ada data pasti terkait skala kerugian Rusia maupun Ukraina. Ukraina mengklaim telah membunuh 14.000 tentara Rusia, meskipun AS memperkirakan mungkin hanya setengahnya.

Menurut para pejabat Barat, ada pula bukti bahwa moral para pejuang Rusia telah menurun menjadi sangat, sangat rendah.

Sebagian pihak lainnya mengatakan para tentara kedinginan, kelelahan, dan kelaparan karena menunggu di tengah musim dingin selama berminggu-minggu di Belarus dan Rusia sebelum diperintah untuk menyerang.

Situasi ini memaksa Rusia menggaet lebih banyak pasukan demi menebus kehilangan yang mereka alami, termasuk dengan menggerakkan unit cadangan dari wilayah timur negara itu, juga dari Armenia.

Para pejabat Barat juga meyakini “sangat mungkin” pasukan asing dari Suriah akan bergabung dalam pertempuran ini bersama tentara bayaran dari kelompok rahasia Wagner.

Seorang pejabat senior militer NATO mengatakan hal itu menandakan bahwa Rusia “mengais hingga ke bagian bawah laras”.