MOSKWA, KALIMANTANLIVE.COM – Sejumlah analis militer Barat terkejut dengan performa pasukan Rusia di medan perang sejauh ini, salah satu dari mereka bahkan menyebutnya “suram”.
Padahal, militer Rusia dikenal sebagai salah satu yang terbesar dan terkuat di dunia, tetapi kekuatan itu belum terlihat dalam invasinya ke Ukraina.
Tampaknya, sebagian besar kemajuan militer Rusia terhenti.
# Baca Juga :Rudal Hipersonik Kinzhal Rusia, Hancurkan Barak Rerelawan Asing Ukraina, 100 Orang Tewas
# Baca Juga :Rusia Gunakan Rudal Kinzhal Hancurkan Gudang Amunisi Bawah Tanah di Ukraina Barat
# Baca Juga :5 Fakta yang Membuat Ukraina Bisa Bertahan 3 Pekan Digempur Raksasa Rusia
# Baca Juga :Tenggelam saat Ingin Salat Jumat, Tubuh Kakek Berusia 76 Tahun Warga Amuntai Selatan Belum Ditemukan
Sejunlah pihak bahkan kini ragu apakah militer Rusia bisa pulih dari kerugian yang mereka derita.
Pekan lalu, seorang pejabat senior militer NATO mengatakan kepada BBC bahwa, “Rusia jelas-jelas belum mencapai tujuan mereka, bahkan mungkin tujuan itu tidak akan tercapai.”
Lalu apa yang salah dengan strategi Rusia? BBC berbincang dengan para perwira militer senior dan pejabat-pejabat intelijen Barat mengenai kesalahan-kesalahan Rusia.
Asumsi yang salah

Kesalahan pertama Rusia adalah meremehkan kekuatan perlawanan dan kemampuan angkatan bersenjata Ukraina yang secara kapasitas lebih kecil.
Rusia memiliki anggaran pertahanan tahunan hingga lebih 60 miliar dollar AS (Rp 869,5 triliun), sedangkan pengeluaran Ukraina pada bidang pertahanan hanya sekitar 4 miliar dollar AS (Rp 57,4 miliar).
Pada saat yang sama, Rusia dan banyak pihak lainnya tampak melebih-lebihkan kekuatan militernya sendiri.
Presiden Rusia Vladimir Putin telah memulai program modernisasi militer yang ambisius, dan Putin mungkin juga meyakini kekuatan militer Rusia yang dilebih-lebihkan itu.
Menurut seorang pejabat senior militer Inggris, sebagian besar investasi Rusia telah dihabiskan untuk persenjataan dan eksperimen nuklir yang luas, termasuk pengembangan senjata baru seperti rudal hipersonik.
Rusia seharusnya telah membangun tank paling canggih di dunia, T-14 Armata. Meskipun tank itu pernah muncul pada Parade Hari Kemenangan di Moskwa, namun T-14 tak pernah nampak di medan tempur. Mayoritas yang dikerahkan Rusia adalah tank T-72 yang lebih tua, pengangkut pasukan lapis baja, artileri, dan peluncur roket.
Pada awal invasi, Rusia jelas lebih diuntungkan di udara, dengan pesawat tempur yang telah bergerak di dekat perbatasan melebihi jumlah milik angkatan udara Ukraina, dengan perbandingan tiga banding satu.










