Kendati sebagian besar gelombang terletak di dekat permukaan bumi, para ilmuwan berkata, gelombang itu dapat bertukar energi dengan ionosfer melalui jalur yang kompleks.
“Gelombang Lamb telah dilaporkan sebelumnya sebagai respons atmosfer terhadap letusan Krakatau pada tahun 1883 dan bahaya geologi lainnya,” ungkap mereka.
Dalam studi ini, dijelaskan bahwa proses masuknya energi secara tiba-tiba akibat badai Matahari, cuaca di Bumi, dan gangguan buatan yang diciptakan manusia berpotensi menyebabkan gangguan yang disebut travelling ionospheric disturbances (TIDs).
“Dengan mendeteksi gangguan ionosfer yang disebabkan letusan yang signifikan di ruang angkasa dengan jarak yang sangat jauh, kami tidak hanya menemukan gelombang Lamb dan propagasi global selama beberapa hari, tetapi juga proses fisik baru yang mendasar,” papar penulis utama studi Shun-Rong Zhang.
Hingga kini, hanya badai Matahari parah yang diketahui dapat menghasilkan TID di ruang angkasa selama beberapa jam atau lebih.
Sedangkan, letusan gunung berapi dan gempa bumi biasanya menghasilkan gangguan seperti itu dalam jarak ribuan kilometer.
“Pada akhirnya, sinyal permukaan dan atmosfer yang lebih rendah dapat membuat percikan besar, bahkan jauh di luar angkasa,” jelas Zhang.
Studi sebelumnya bahkan menunjukkan, letusan gunung berapi yang memicu tsunami di Tonga, seribu kali lebih kuat daripada bom atom yang dijatuhkan oleh Amerika Serikat di Kota Hiroshima, Jepang selama Perang Dunia II.
editor : NMD
sumber : kompas.com







