KALIMANTANLIVE.COM – Para ilmuwan menyebut, letusan Gunung Hunga Tonga-Hunga Ha’apai di Tonga menyebabkan gangguan yang serupa dengan dampak dari badai Matahari parah.
Letusan gunung berapi bawah laut di Tonga yang pada awal tahun 2022 itu, dilaporkan mengirimkan gelombang ke atmosfer 300 kilometer di atas permukaan Bumi.
Jurnal Frontiers in Astronomy and Space Sciences, dalam studi terbaru mempublikasikan, tim ilmuwan telah menganalisis data rekaman milik 5.000 sistem satelit navigasi yang tersebar di seluruh dunia.
# Baca Juga :Setelah Gunung Meletus dan Tsunami, Wilayah Tonga Seperti Permukaan Bulan, Ini Dampaknya di Seluruh Dunia
# Baca Juga :FAKTA Erupsi Gunung Anak Krakatau, dari Imbau Jauhi 2 Kilometer hingga Mengetahui Kawasan Rawan Bencana
# Baca Juga :Gunung Anak Krakatau 3 Kali Erupsi, Muntahkan Abu Vulkanik Setinggi 2.000 Meter Jumat 25 Maret 2022
# Baca Juga :Gunung Merapi Batuk-batuk dan Semburkan Awan Panas Hari Ini, Hujan Abu Terpa Wilayah Jawa Tengah
Sekelompok ilmuwan, termasuk tim dari Massachusetts Institute of Technology (MIT) di Amerika Serikat, mengamati adanya gelombang atmosfer yang dihasilkan letusan gunung di Tonga, serta jejaknya di lapisan ionosfer Bumi.
Untuk diketahui, lapisan ionosfer adalah salah satu lapisan pelindung Bumi atau atmosfer yang molekulnya mengalami ionisasi.
Kondisi itu disebabkan sinar Matahari yang panas membuat gas di dalam ionosfer kehilangan elektron, kemudian berubah menjadi partikel bermuatan listrik sebagai reaksi ionisasi.
Gelombang tersebut diketahui masih aktif selama empat hari setelah letusan gunung berapi bawah laut Tonga, dan mengelilingi seluruh wilayah di dunia hingga tiga kali.
Sementara, para ilmuwan di Amerika Serikat menuturkan gangguan gelombang di lapisan ionosfer melewati negara itu sebanyak enam kali, dari arah barat menuju timur dan sebaliknya.
Menurut studinya, para ilmuwan mengatakan bahwa temuannya menjelaskan bagaimana gelombang atmosfer dan ionosfer global bisa terhubung.
“Studi ini memberikan bukti pertama yang substansial dari jejak jangka panjang mereka (material letusan gunung di Tonga) di ionosfer secara global,” kata para ilmuwan seperti dilansir dari Independent, Sabtu (26/3/2022).
Sebelumnya, peneliti telah menemukan abu dari letusan gunung berapi bawah laut yang memutus komunikasi Tonga dari seluruh dunia mencapai lapisan mesosfer Bumi.
Mesosfer adalah lapisan atmosfer ketiga, antara stratosfer dan termosfer yang membentang dari sekitar 50 kilometer hingga 85 kilometer di atas permukaan Bumi.
Tim juga menduga, bahwa gangguan itu mungkin disebabkan karena adanya gelombang Lamb, yang bergerak dengan kecepatan suara secara global tanpa banyak mengurangi amplitudo.








