KALIMANTANLIVE.COM – Dicurigai melakukan spionase alias mata-mata, beberapa negara Eropa mengumumkan pengusiran puluhan diplomat Rusia.
Tindakan tersebut diduga terkoordinasi dengan latar belakang perang Rusia di Ukraina.
Mengutip Al Jazeera, Belanda mengatakan akan mengusir 17 orang Rusia yang digambarkan sebagai perwira intelijen yang menyamar sebagai diplomat.
# Baca Juga :Abramovich Diduga Mendapat Serang Racun saat Jadi Negosiator Perdamaian Rusia-Ukraina
# Baca Juga :Penyedia Teknologi Militer ke Rusia Terancam Kena Sanksi AS
# Baca Juga :Joe Biden Ingin G20 Depak Rusia, Tapi Indonesia Berkeras Tetap Undang Vladimir Putin
Sementara Belgia mengatakan pihaknya mengusir 21 diplomat dari kedutaan Rusia.
Irlandia mengatakan kepada empat pejabat senior Rusia untuk meninggalkan negara itu karena kegiatan yang dianggap tidak “sesuai dengan standar perilaku diplomatik internasional”.
Tak hanya itu, Republik Ceko juga memberi waktu 72 jam kepada satu diplomat Rusia untuk meninggalkan negara itu.
Pengusiran itu terjadi ketika hubungan antara Rusia dan Barat telah membeku setelah invasi Moskow ke Ukraina .
Pekan lalu, Polandia mengusir 45 orang Rusia yang diidentifikasi pemerintah sebagai perwira intelijen menggunakan status diplomatik mereka sebagai kedok untuk beroperasi di negara itu.
Belanda Bersiap untuk Pembalasan
Belanda pada Selasa (29/3/2022) mengatakan, mengambil keputusannya dalam konsultasi dengan “sejumlah negara yang berpikiran sama,” mengutip pengusiran serupa oleh Amerika Serikat, Polandia, Bulgaria, Slovakia, Estonia, Latvia, Lithuania dan Montenegro.
“Kabinet telah memutuskan untuk melakukan ini karena ancaman terhadap keamanan nasional yang ditimbulkan oleh kelompok ini,” kata kementerian luar negeri Belanda dalam sebuah pernyataan.
Dia menambahkan bahwa mereka telah memanggil duta besar Rusia dan memberitahu dia tentang pengusiran.
“Alasannya adalah ada informasi menunjukkan bahwa orang-orang yang bersangkutan, yang terakreditasi sebagai diplomat, secara diam-diam aktif sebagai perwira intelijen,” kata kementerian yang berbasis di Den Haag itu dalam sebuah pernyataan.
“Kabinet telah memutuskan untuk melakukan ini karena ancaman terhadap keamanan nasional yang ditimbulkan oleh kelompok ini,” tambah pernyataan itu, yang mengatakan bahwa ancaman intelijen terhadap Belanda tetap tinggi.
Menteri Luar Negeri Belanda, Wopke Hoekstra mengatakan dia siap untuk pembalasan dari Moskow.
“Pengalaman menunjukkan bahwa Rusia tidak membiarkan tindakan semacam ini tidak terjawab,” katanya.
“Kami tidak bisa berspekulasi soal itu, tapi Kemlu siap dengan berbagai skenario yang mungkin muncul dalam waktu dekat,” jelasnya.
Menteri Luar Negeri Belgia, Sophie Wilmes mengatakan kepada parlemen bahwa langkah Brussel dikoordinasikan dengan Belanda dan bukan sanksi.










