BARABAI, kalimantanlive.com – Sejak video siswa SD naik baskom ke sekolah viral hingga menasional, Kampung Awang Landas, di Desa Sungai Buluh, Kecamatan Labuanamas Utara, Kabupaten Hulu Sungai Tengah, Kalimantan Selatan ikut jadi pembicaraan.
Awang Landas merupakan perkampungan unik.
Berada di tengah perairan rawa yang kedalamannya dikisaran 3 sampai 5 meter, airnya berwarna kehitaman.
Warga setempat tinggal di rumah lanting atau rumah terapung.
Rumah itu bisa berpindah ke lokasi lain saat kemarau.
Menurut Kades Sungaibuluh, Suriyani, musim kemarau saatnya warga menggeser rumah mereka ke tempat yang airnya lebih dalam.
BACA JUGA: Harga Minyak Goreng Kemasan di HSS, Minyak Curah Menghilang
“Soalnya sudah terbiasa hidup di tengah air. Saat kemarau, ada titik rumah yang surut. Cara menggeser rumahnya, dikayuh menggunakan penanjak (tongkat kayu) seperti halnya mengayuh perahu,” kata Suriyani, Selasa 29 Maret 2022.
Bertempat tinggal di rumah lanting, diakui rawan terseret arus.
Terutama saat terjadi angin kencang atau angin putting beliung.
Di tengah bentangan air rawa yang luas, tidak ada pepohonan tinggi di sekitarnya.
“Pernah, rumah salah satu warga kami diterpa angin kencang. Namun, tersangkut di rumput liar belakang rumah sebagai penahan. Jika tak ada rumput liar, mungkin sudah terseret arus lebih jauh,” ungkap Kades.
Disebutkan, perkampungan tersebut terbentuk puluhan tahun silam.
Berawal banyaknya warga Desa Sungai Buluh membangun pondokan kecil sebagai tempat menginap untuk menjaga ternak itik maupun ternak kerbau.
Para peternak sengaja mencari tempat jauh dari kawasan permukiman penduduk desa, karena tidak ingin usaha ternak mereka menimbulkan masalah.
Seperti bau kotoran unggas maupun kerbau yang membuat warga lainnya terganggu.
Pada akhirnya, makin banyak yang membangun rumah kecil hingga membentuk komunitas.
Selanjutnya, menjadikan lokasi tersebut sebagai kampung permukiman tetap.
Namun, mereka membangun rumah lanting terpencar di beberapa titik.
Untuk kebutuhan air besih, sebelumnya, warga mengonsumsi air rawa dengan cara diendapkan.
Namun, akhirnya mendapat bantuan pompa air manual untuk mengambil air bawah tanah, yang dipasangi pipa dengan cara mengebor.
Namun karena usia pompas sudah tua, menurut Yamani, warga Awang Landas, kini hanya dua pompa berfungsi, termasuk satu pompa di SDN 3 Sungai Buluh, yang dibangun swadaya para guru.
Untuk mengambil air ke titik lokasi pompa, warga membawa jerigen menggunakan kelotok.
Menurut warga, air bor hanya untuk kebutuhan memasak dan minum.
Sedangkan kegiatan MCK tetap pakai air rawa.
Warga pun berharap, panel lsitrik tenaga surya bantuan Kementerian ESDM 2017 lalu diperbaharui, karena kini tak berfungsi secara maksimal lagi.
Editor: M Khitami
Sumber: banjarmasinpost.co.id







