Fakta ini yang menjadi dasar bagi mereka yang menggunakan metode Hisab Wujudul Hilal untuk menetapkan awal Ramadan bertepatan 2 April 2022.
Sementara Kemenag, sebagaimana fatwa MUI, menetapkan awal Ramadan, Syawal, dan Zulhijjah berdasarkan metode Hisab dan Rukyat.
Hasil perhitungan astronomi atau Hisab, dijadikan sebagai informasi awal yang kemudian dikonfirmasi melalui metode Rukyat (pemantauan di lapangan).
“Posisi hilal pada kisaran 1 sampai 2 derajat ini cukup krusial dalam konteks rukyat atau pemantauan. Apalagi, kriteria baru yang disepakati MABIMS (Menteri-Menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura), awal bulan masuk jika posisi hilal saat matahari terbenam sudah 3 derajat dan elongasi 6,4 derajat. Dalam konteks inilah ada potensi perbedaan awal Ramadan,” jelasnya.
“Sidang Isbat akan menunggu laporan hasil pemantauan hilal, apakah ada yang melihat ataukah tidak. Selanjutnya, peserta sidang akan bermusyawah untuk menentukan awal Ramadan. Jadi, mari tunggu pengumuman hasil dari Sidang Isbat,” ujarnya.
Berikut link untuk memantau hasil sidang Isbat:
- TV
- Kemenag
- Instagram Kemenag
Wapres Berharap Awal Ramadhan Bersamaan
Wakil Presiden Maruf Amin memberi tanggapan soal potensi perbedaan awal Ramadhan.
Menurut Wapres, apabila terjadi perbedaan penetapan awal Ramadhan ini juga harus dibarengi dengan toleransi dari semua pihak.
“Tapi walaupun tidak sama, itu sudah ada semacam pemahaman bersama. Artinya ada toleransi,” kata Maruf Amin dalam tayangan video di kanal YouTube Kompas TV, Jumat (1/4/2022).
Lebih lanjut, Maruf menjelaskan bahwa Muhammadiyah menggunakan pendekatan Wujudul Hilal dalam menetapkan awal Ramadhan.
Sementara pemerintah menggunakan pendekatan Imkanur-Rukyat.
Kendati demikian, Maruf masih berharap bahwa awal Ramadhan tahun ini bisa sama.
“Muhammadiyah dengan pendekatan namanya Wujudul Hilal. Tapi kalau pemerintah itu kepada Imkanur-Rukyat, minimal dua derajat.”
“Tapi kalau melihat tahun ini kemungkinan lebih dari dua derajat, kemungkinannya akan sama, mudah-mudahan sama,” ungkapnya.
Sementara itu, Profesor Riset Bidang Astronomi dan Astrofisika, Pusat Riset Antariksa BRIN, Thomas Djamaluddin juga mengatakan, Muhammadiyah telah memutuskan awal Ramadhan jatuh pada 2 April 2022.
Karena sudah masuk kriteria pendekatan Wujudul Hilal yang digunakan Muhammadiyah.
Namun bagi yang menetapkan awal Ramadhan dengan menggunakan Imkanur-Rukyat seperti pemerintah, hilal tidak mungkin bisa dirukyat menurut kriteria astronomi.
Sehingga awal Ramadhan berpotensi jatuh pada 3 April 2022.
“Menurut Muhammadiyah ini sudah memasuki kriteria Wujudul Hilal, sehingga mereka memutuskan awal Ramadhan jatuh pada tanggal 2 April 2022.”
“Tapi yang menggunakan Imkanur-Rukyat, hilal tidak mungkin bisa dirukyat menurut kriteria astronomi. Sehingga berpotensi awal Ramadhan jatuh tanggal 3 April 2022,” terang Thomas.
editor : NMD
sumber : www.tribunnews.com







