Di satu sisi pihaknya menduga aksi pengeroyokan yang dialami Ade Armando sebagai cerminan polarisasi (terbelahnya masyarakat) yang makin tajam di masyarakat.
Polarisasi tersebut, ujar dia, muncul karena keprihatinan masyarakat atas situasi pandemi, gejolak sosial dan harga-harga yang naik serta tensi politik yang meningkat menuju 2024.
Sementara itu berdasarkan pantauan di media sosial, kontroversi Ade Armando selama ini turut membelah opini atas penganiayaan yang terjadi pada dirinya.
Selain itu, dalam aksi demo 11 April yang terjadi di lokasi terpisah–bukan di depan DPR, tapi Patung Arjuna Wiwaha (Patung Kuda) di Jalan Medan Merdeka Barat–orator mengumumkan respons atas pengeroyokan Ade Armando.
Orator tersebut mengatakan pemukulan terhadap dosen Universitas Indonesia (UI) itu merupakan wujud kemuakan rakyat terhadap buzzer-buzzer yang membelah bangsa.
Ia lantas meminta massa aksi agar tetap teguh berjuang demi tegaknya keadilan dan kesejahteraan.
“Itu kemarahan rakyat yang sudah muak dengan buzzer-buzzer penghancur, pembelah bangsa,” ujarnya dari mobil komando di Patung Kuda, Senin (11/4).
Orator tersebut berasal dari kelompok Aliansi Rakyat Menggugat. Ia mengucapkan kalimat bersyukur hingga dua kali.
“Beredar di media sosial Ade Armando dipukuli, alhamdulillah, alhamdulillah,” katanya.
Ade tampak berada di depan Kompleks Gedung DPR/MPR saat mahasiswa dari berbagai kampus menggelar aksi demonstrasi.
Ia yang sempat berbincang dengan sejumlah wartawan peliput aksi mengaku tidak berniat ikut demo, tapi Ade menyatakan dukungannya pada aspirasi BEM SI yang menolak wacana penundaan pemilu 2024 dan perpanjangan masa jabatan presiden.
Situasi demonstrasi awalnya terpantau kondusif. Alih-alih selesai dengan damai, keadaan berubah ricuh saat polisi mesti menembakkan gas air mata karena Ade dikeroyok massa aksi.
Ade pun diselamatkan petugas kepolisian dan mendapat perawatan di Rumah Sakit Siloam.
Menurut Kapolda Metro Jaya Irjen Fadil Imran, pelaku pemukulan Ade sudah teridentifikasi dan meminta mereka menyerahkan diri.
editor : NMD
sumber : CNN Indonesia







