Klaim Luhut yang Bilang Tak Pernah Wacanakan Penundaan Pemilu dan Presiden 3 Periode, Benar Apa Bohong Ya?

JAKARTA, KALIMANTANLIVE.COM – Dihadapan mahasiswa Universitas Indonesia (UI), Menteri Koordinator bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves) Luhut Binsar Pandjaitan mengaku tak pernah mewacanakan penundaan pemilu dan perpanjangan masa jabatan presiden tiga periode.

Pengakuan itu dilontarkan Luhut saat menjawab protes mahasiswa kala ia mengunjungi Universitas Indonesia (UI), di Depok, Jawa Barat, Selasa (12/4/2022).

“Dengerin, jangan marah-marah. Saya tidak pernah mengatakan wacana itu. Pernah saya katakan, di bawah itu minta pemilu ditunda, apa salah? Kamu ngomong gini salah? Enggak kan,” kata Luhut saat berada di aksi mahasiswa UI, Selasa (12/4/2022).

# Baca Juga :Bantah Ucapan Luhut, Survei SMRC: Mayoritas Pemilih PDIP, Golkar, Gerindra, Demokrat, PAN Tolak Pemilu Ditunda

# Baca Juga :Kerahkan 1.000 Mahasiswa, BEM SI Demo Istana pada 11 April 2022, Tagih Jawaban Jokowi soal Presiden 3 Periode

# Baca Juga :UPDATE Demo 11 April 2022, Polisi Tangkap Penyusup di Antara Massa Mahasiswa, Bawa Senjata Tajam

# Baca Juga :DEMO 11 April 2022, Hari Ini: BEM SI Geser Lokasi Unjuk Rasa ke DPR, Polisi Lakukan Penyekatan

Munculnya wacana perpanjangan masa jabatan presiden menjadi tiga periode memicu demonstrasi besar-besaran yang digelar mahasiswa dari berbagai universitas di sejumlah kota besar di Indonesia.

Kompas.com pun mencoba menyelisik pernyataan Luhut tentang wacana penundaan pemilu serta perpanjangan masa jabatan presiden menjadi tiga periode.

Berikut Fakta Sejumlah Pernyataan Luhut:

Big data soal aspirasi penundaan pemilu

Luhut pertama kali mengklaim mempunyai big data soal 110 juta rakyat menginginkan penundaan pemilu pada awal Maret lalu melalui wawancara di sebuah akun Youtube.

Statement Luhut itu kemudian kian membuat isu perpanjangan masa jabatan Presiden Jokowi yang sebelumnya sudah disuarakan sejumlah ketua umum parpol menjadi semakin kencang.

Berbagai pihak lantas mendesak Luhut untuk membuka data yang ia maksud. Namun Luhut sejak awal menolak membuka data itu.

“Ya janganlah, buat apa dibuka?,” tutur Luhut saat diwawancarai wartawan, 15 Maret 2022 lalu.

Meski enggan membuka big data tersebut, Luhut menegaskan ia tidak berbohong. Ia mengklaim data tersebut benar-benar ada.

Ia menepis tudingan sejumlah pihak yang meragukan validitas data tersebut maupun yang menyebut bahwa big data itu tidak benar.

“Ya pasti adalah, masa bohong,” kata Luhut.

Luhut mengaku, dirinya banyak mendengar aspirasi dari rakyat soal penundaan pemilu.