Kecelakan Maut di Pegunungan Arfak, 18 Tewas Termasuk Balita dan Ibunya, Truk Angkut 34 Orang Tabrak Tebing

Penumpang di bak belakang pun langsung terpental usai kendaraan menabrak tebing.

“Seluruh penumpang mengalami luka-luka di mana 13 orang meninggal di TKP, tiga orang meninggal di RS Pratama Warmare setelah mendapat perawatan medis, 10 orang luka berat, dan tiga luka ringan,” katanya.

Sopir tak punya SIM

Gultom menjelaskan, berdasarkan pemeriksaan polisi, pengemudi ternyata tidak memiliki SIM.

Sopir tersebut juga meninggal dunia di lokasi.

“Pengemudi tidak cakap saat melintasi jalan turunan menikung tajam, sehingga lepas kendali, out of control,” jelas Gultom.

Polisi juga menemukan truk melebihi batas muatan. Sebab, peruntukannya bukan untuk memuat orang namun mengangkut barang.

“Pengemudi mencoba menguasai kemudi namun karena volume muatan kendaraan berat sehingga kendaraan meluncur hilang kendali dan menabrak tebing,” papar Gultom.

Ada balita dan seorang ibu tewas

Dari 18 orang yang tewas, seorang balita berusia tiga tahun dan ibunya juga menjadi korban tewas kecelakaan maut tersebut.

Ibu rumah tangga itu merupakan tukang masak di kamp penambangan emas ilegal.

Saat kecelakaan terjadi, dia dan anak balitanya mengikuti sang suami.

“Iya, ada korban satu balita dan satu ibu rumah tangga, sisanya pria pekerja di lokasi tambang emas di Minyambouw,” kata Ketua Flobamora Papua Barat, Clinton Tallo.

Clinton mengemukakan, para korban yang meninggal dunia merupakan warga yang berasal dari Nusa Tenggara Timur (NTT) dan bekerja di pertambangan.

“Itu warga kami, ada yang didatangkan oleh pihak yang mempekerjakan dari NTT namun ada juga yang sudah lama menetap di sini. Mereka penambang,” tutur Clinton.

Gubernur sebut kecelakaan terbesar

Gubernur Papua Barat Dominggus Mandacan menyebutkan, kecelakaan di Pegunungan Arfak itu adalah tabrakan terbesar di wilayahnya.

Hal itu dikemukakan oleh gubernur saat melihat para korban di kamar jenazah RSUD Manokwari, Rabu (13/4/2022).