Normal terjadi
Lebih lanjut, dia menjelaskan bahwa konjungsi ini fenomena yang normal terjadi.
“Sebenarnya, konjungsi ini peristiwa yang lazim dalam mekanika benda langit.
setiap planet dan benda-benda langit lain (seperti matahari, bintang, bulan, asteroid, plutoid/planet kerdil) mempunyai periodenya masing-masing dan memiliki titik awal/startnya masing-masing,” ujar Andi.
Dia juga menjelaskan dalam gerak rotasi, ada yang namanya sudut fase, yakni sudut yang diukur dari acuan ke benda di sepanjang bidang edar.
Untuk konteks mekanika benda langit, acuannya adalah bintang tetap (astronom biasa menggunakan vernal ekuinoks).
“Ketika dua atau lebih planet sudut fasenya hampir sama, maka akan terjadi konjungsi,” kata Andi.
Lebih lanjut, dia menjelaskan, ketika sudut fasenya berbeda 180 derajat, maka akan terjadi oposisi.
Lalu ketika sudut fasenya berbeda 90 derajat, maka akan terjadi square/kuadratur/perbani/dikotomi. keempat istilah ini maknanya sama.
“Ketika sudut fasenya berbeda 120 derajat, maka akan terjadi trine, ketika sudut fasenya berbeda 60 derajat, maka akan terjadi sextile dan ketika sudut fasenya berbeda 150 derajat, maka akan terjadi quincunx,” tutur Andi.
Andi mengatakan, kelima aspek ini dikenal baik dalam astronomi maupun astrologi.
Bedanya, astronomi tidak mengaitkan kelima aspek ini dengan peristiwa-peristiwa di bumi, berbeda hal dengan astrologi.
editor : NMD
sumber : kompas.com










