Usai Rusia Invasi Ukraina, Giliran China Kirim 18 Pesawat Tempur dan Pengebom ke Udara Taiwan

Bagian dari ADIZ Taiwan juga tumpang tindih dengan ADIZ China.

Asia Timur setelah Ukraina?

Taiwan hidup di bawah ancaman invasi terus-menerus oleh Beijing, yang melihat pulau demokratis yang memiliki pemerintahan sendiri itu sebagai bagian dari wilayahnya yang akan direbut kembali suatu hari nanti, dengan paksa jika perlu.

Perdana Menteri Jepang Fumio Kishida memperingatkan pada Kamis (5/5/2022) bahwa invasi ke Ukraina dapat direplikasi di Asia Timur, jika kekuatan utama tidak menanggapi agresi Moskwa.

Kishida mengatakan bahwa perdamaian dan stabilitas di Selat Taiwan harus dipertahankan.

“(Setelah) Ukraina mungkin Asia Timur besok,” kata Kishida saat berkunjung ke London.

“Perdamaian dan stabilitas di Selat Taiwan sangat penting tidak hanya untuk keamanan Jepang tetapi juga untuk stabilitas masyarakat internasional,” kata Kishida.

Kementerian Luar Negeri Taiwan berterima kasih kepada Kishida atas komentarnya tentang stabilitas di Selat Taiwan, menilai itu “tidak hanya mencerminkan aspirasi negara-negara demokratis, tetapi juga menunjukkan kemenangan atas pengakuan dan persetujuan masyarakat internasional”.

Pada (6/5/2022) Jumat, Kementerian Luar Negeri China menyampaikan tanggapan dengan menuduh Jepang membesar-besarkan ancaman yang dirasakan dari Beijing, sebagai alasan untuk meningkatkan ambisi militernya sendiri.

“Jika Jepang benar-benar menginginkan perdamaian dan stabilitas di Asia Timur, Jepang harus segera berhenti memprovokasi konfrontasi antara kekuatan besar dan berbuat lebih banyak untuk membantu meningkatkan kepercayaan antara negara-negara kawasan dan mempromosikan perdamaian dan stabilitas regional,” kata juru bicara Kementerian Luar Negeri China Zhao Lijian pada pengarahan rutin di Beijing.

editor : NMD
sumber : kompas.com