Anak Eks Diktator Filipina Marcos Jr Unggul di Pilpres, China Bakal Berkibar, Amerika?

KALIMANTANLIVE.COM – Ferdinand ‘Bongbong’ Marcos Jr yang merupakan salah satu calon Presiden Filipina, unggul telak dalam quick count atau hitung cepat pemilihan presiden (Pilpres), Senin (8/5/2022).

Seperti dikutip dari CNNIndonesia dari AFP, berdasarkan penghitungan awal, jumlah suara untuk anak mantan diktator Ferdinand Marcos itu jauh di atas saingan terdekatnya, Wakil Presiden Leni Robredo.

Dengan lebih dari 90 persen surat suara diproses, Marcos Jr telah mengantongi hampir 30 juta suara, lebih dari dua kali lipat dari jumlah suara untuk Robredo yang merupakan mantan pengacara HAM.

# Baca Juga :Kembali Dinasti Diktator Ferdinand Marcos, 4 Orang Tewas Jelang Pemilihan Presiden Filipina

# Baca Juga :Wartawan Reuters Filipina Peraih Pulitzer Tewas Ditembak di Kepala, Pernah Liput Perang Narkoba Duterte

# Baca Juga :Kumpulkan Potongan Rambutnya yang Dipangkas, Seniman di Filipina Ciptakan Lukisan dari Rambut

# Baca Juga :Pemerintah Indonesia Akhirnya Cabut Larangan Ekspor Batu Bara Gara-gara Diprotes Jepang, Korea Selatan dan Filipina

Melihat sejarah keluarga Marcos Jr yang mantan diktator, beberapa pengamat khawatir kemenangan Marcos Jr bakal memperburuk krisis hak asasi manusia di Filipina.

Tak hanya itu, kemenangan Marcos Jr dalam pilpres Filipina diprediksi bakal membuat Manila semakin dekat dengan Beijing.

CNN melaporkan, hubungan antara Filipina dan China tak terlalu bagus imbas masalah klaim Beijing di Laut China Selatan (LCS).

Dalam beberapa tahun terakhir, Manila menuduh Beijing mencoba mengintimidasi kapal penjaga pantai mereka dan menempatkan militan maritim untuk mengusir kapal nelayan Filipina di zona konflik.

Walaupun demikian, Marcos Jr terus berpendapat bahwa permasalahan LCS ini dapat diselesaikan secara bilateral bersama China.

Mengutip The Diplomat, Marcos Jr sempat mengatakan bahwa ia bakal mengesampingkan putusan pengadilan arbitrase pada 2016 atas LCS dan bernegosiasi secara bilateral dengan China pada Januari lalu.

“Arbitrasi tersebut tidak lagi sebuah arbitrasi jika hanya ada satu pihak. Jadi, itu tak lagi sesuai bagi kami,” kata Marcos.

Selain itu, ia mengatakan bahwa “kesepakatan bilateral adalah yang tersisa bagi kami.”