BMKG Sebut Cuaca Panas Terik di Indonesia Bukan Gelombang Panas, Ini Penjelasannya

KALIMANTANLIVE.COM – Suhu panas terik yang terjadi di wilayah Indonesia saat ini ternyata bukanlah fenomena gelombang panas.

Hal tersebut ditegaskan pihak Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG).

Menurut Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Guswanto, fenomena suhu udara terik yang terjadi pada siang hari di sejumlah wilayah Indonesia ini dipicu oleh beberapa hal.

# Baca Juga :BMKG Peringatkan Gelombang Tinggi 2,5 Meter Hari Ini dan Besok saat Arus Balik Lebaran 2022

# Baca Juga :Muhammadiyah Lebaran Senin 2 Mei 2022, Pemerintah dan NU Kapan Ya? Ini Prediksi BMKG

# Baca Juga :Waspada Tsunami Malam Hari! BMKG: Status Gunung Anak Krakatau Naik ke Level Siaga

# Baca Juga :BMKG: Cuaca Ekstrem di 27 Wilayah Rabu, 27 April: Kalsel Berpotensi Hujan Lebat dan Angin Kencang

Di antaranya yakni posisi semu matahari yang sudah berada di wilayah utara ekuator dan menyebabkan pertumbuhan awan hujan sangat berkurang, serta dominasi cuaca yang cerah dan tingkat perawanan yang rendah.

Sehingga, penerimaan sinar matahari ke permukaan Bumi terjadi optimal yang membuat masyarakat merasakan suhu cukup terik pada siang hari.

“Suhu panas terik yang terjadi di wilayah Indonesia bukan fenomena gelombang panas,” tegas Guswanto dalam keterangan tertulis yang diterima Kompas.com, Minggu (8/5/2022).

Apa itu gelombang panas?

Dilansir dari Britannica, gelombang panas adalah periode suhu permukaan tinggi yang abnormal dan berkepanjangan.

Gelombang panas dapat terjadi selama beberapa hari hingga beberapa minggu dan merupakan penyebab signifikan kematian akibat cuaca.

Sebenarnya, tidak ada definisi standar mengenai gelombang panas. The World Meteorological Organization mendefinisikan gelombang panas sebagai kondisi ketika suhu mencapai lebih dari suhu maksimum rata-rata sebesar 5 derajat celcius atau lebih selama lima hari atau lebih berturut-turut.

Suhu yang sangat panas selama beberapa waktu ini dapat berbahaya bagi makhluk hidup.

Misalanya saja Amerika Serikat, yang pernah dilanda gelombang panas dan kekeringan pada tahun 1988 yang menewaskan lebih dari 4.000 orang.