JAKARTA, KALIMANTANLIVE.COM – Berdasarkan Cilmate Economic Index, Indonesia merupakan negara yang sangat rentan terhadap musim kemarau.
Untuk itu, Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mewanti-wanti agar tetap waspada atas bahaya kebakaran hutan.
Airlangga mengatakan hal ini dalam acara Green Economy Indonesia Summit 2022 di Jakarta, Rabu (11/5/2022).
# Baca Juga :Kementerian LH Gugat Rp 1,7 Triliun 2 Perusahaan Pembakar Hutan dan Lahan, PT RKA di Kalbar dan PT ABS Batola
# Baca Juga :Ditinggal Anak Main Futsal, 5 Orang Kaluarganya Tewas dalam Kebakaran Bengkel Motor di Tanjung Priok
# Baca Juga :GEGER Kebakaran Ramadhan 1443 H Hari Kedua, Kawasan Bumi Mas Banjarmasin Digoyang Si Jago Merah
# Baca Juga :FAKTA Kebakaran di Palangkaraya, Terdengar 2 Kali Suara Petir dan Ledakan Sebelum Si Jago Merah Ngamuk
“Climate Economic Index itu juga menunjukan, Indonesia adalah yang sangat rentan, terutama masuk masuk dalam musim kemarau nanti. Risiko kebakaran hutan kembali mengintip ataupun perlu kita waspadai,” katanya.
Namun demikian, Pemerintah melalui Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) sudah melakukan berbagai persiapan, termasuk dalam menghadapi risiko kebakaran hutan.
“Sebetulnya, ini sama dengan menghadapi Pandemi. Jadi, kita sebelumnya perlu juga red army untuk kebakaran hutan,” kata Airlangga.
Ini sama halnya dengan pada tahun 1930-an, dunia masih belum memiliki pemadam kebakaran.
Oleh karenanya, kata Airlangga, kesadaran akan perubahan iklim harus dijaga dan berkomitmen untuk menurunkan 29 persen emisi gas rumah kaca dengan bantuan sendiri.
Selain itu, juga dibutuhkan penurunan emisi gas rumah kaca sebesar 41 persen dari bantuan internasional dengan skenario business as usual (BAU) tahun 2030.
Sebagaimana diketahui, transisi ekonomi hijau merupakan salah satu agenda penting yang diangkat Presiden Joko Widodo (Jokowi) selama penyelenggaraan G20 Presidency of Indonesia 2022 hingga puncak G20 Presidency di Bali.
Transformasi perekonomian Indonesia yang berbasis inovasi digital dan teknologi ke arah ekonomi hijau atau berkelanjutan sangat dibutuhkan sekarang ini.
Sebab, jika pertumbuhan ekonomi berbasis perlindungan terhadap lingkungan tidak dijalankan, maka akan timbul berbagai eksternalitas negatif.
Contohnya, perubahan iklim yang dapat mengancam percepatan pemulihan ekonomi nasional Tanah Air.
Adapun perubahan iklim yang tidak dimitigasi akan memberikan dampak yang luar biasa besar bagi perekonomian Indonesia.
editor : NMD
sumber : kompas.com







