KALIMANTANLIVE.COM – Indonesia tak hanya mengirim atlet-atlet terbaiknya untuk Piala Thomas Uber 2022, tetapi juga sosok umpire atau wasit utama.
Umpire atau wasit utama tersebut adalah Qomarul Lailah, wasit wanita asal Surabaya, Indonesia di cabang olahraga bulu tangkis.
Qomarul Lailah sempat menjadi perbincangan di jagad maya saat memimpin pertandingan Denmark melawan China pada babak penyisihan Grup B Thomas Cup.
# Baca Juga :Klasemen Medali SEA Games 2021: Malaysia Runner Up, Vietnam Makin Menjauh, Indonesia?
# Baca Juga :Hasil Indonesia vs Filipina di SEA Games 2021, Egy Cetak Satu Gol, Timnas Menang 4-0
# Baca Juga :Usai Opening Ceremony, Ini Klasemen Medali SEA Games 2021, Posisi Indonesia?
# Baca Juga :JADWAL Timnas SEA Games 2021 Timnas Indonesia Vs Filipina, Garuda Muda Wajib Menang!
Saat itu, Lia, sapaan akrabnya, memimpin laga Anders Antonsen melawan Li Shi Feng, di Impact Arena, Bangkok, Thailand, Rabu (11/5/2022).
Uniknya, hal yang diperbincangkan Qomarul Lailah bukan kinerjanya sebagai wasit melainkan ulah Anders Antonsen yang ganti celana di belakang kotak raket.
Secara bersamaan, Lia tak sengaja melihat Anders Antonsen yang sedang ganti celana. Sontak, dia memalingkan wajahnya.
Seorang Guru SD di Surabaya
Qomarul Lailah merupakan salah satu guru di SD Negeri Sawunggaling 1, Surabaya, Jawa Timur. Dia mengajar Bahasa Inggris di sekolah tersebut.
Dikutip dari Kompas Regional, Lia mengaku sejak awal tidak tertarik menjadi wasit di cabang olahraga badminton.
Kali pertama terjun di dunia wasit bulu tangkis, dia tak memahami dengan baik tentang olahraga tepok bulu angsa.
Namun, setelah mendapatkan cukup banyak pengetahuan, Lia tertarik untuk terjun dan mencoba ikut pelatihan serta menjalani ujian di tingkat provinsi.
Lia dinyatakan lulus saat ikut pelatihan dan ujian di tingkat provinsi tersebut.
Meski demikian, kelulusannya itu tak lantas membawa Lia begitu saja menjadi wasit profesional.
Kariernya dalam dunia perwasitan dimulai sejak 2000. Saat itu, Lia masih menjadi guru tenaga kontrak di salah satu SD di Surabaya.
“Lalu dengan tetap optimis saya terus belajar, hingga saya terus membaca buku berjudul Law of Badminton. Buku itu memang segala aturan dan instruksi dalam bahasa Inggris,” tutur Lia.
Sejak saat itu, Lia terus berjuang mengikuti berbagai ujian nasional di berbagai ajang.







