Gelombang Lamb tercatat melewati Inggris yang berjarak sekitar 16.500 km dari Tonga, pada tanggal 15 Januari di malam hari, sekitar 14 jam usai letusan berlangsung.
Ahli fisika atmosfer di University of Reading, Prof Giles Harrison mengatakan dampaknya ialah awan di wilayah ini mengalami gangguan.
“Pada saat itu, kami memiliki perekam laser cloud-base yang mengamati dasar awan, dan ketika gelombang lewat awan pun terganggu,” terang Harrison.
Menurut dia, ketika gelombang Lamb bergabung dengan gelombang laut keduanya mampu menghasilkan tsunami, yang tidak hanya terjadi di Samudra Pasifik tetapi juga di Samudra Atlantik dan Laut Mediterania.
“Jika Anda menginginkan bukti bahwa atmosfer adalah hal yang saling berhubungan, inilah buktinya (dampak letusan gunung Tonga). Dan apa yang terjadi di satu sisi planet ini dapat menyebar ke sisi lain dengan kecepatan suara,” tuturnya.
Sementara ini, para ilmuwan masih menyelidiki tsunami jarak dekat yang terjadi di sepanjang garis pantai di kepulauan Tonga.
Penyelidikan juga tengah dilakukan untuk menentukan apakah runtuhnya bagian dari gunung berapi, berdampak pada naiknya permukaan air.
Adapun hasil dari pemetaan dasar laut itu, akan dilaporkan dalam beberapa pekan mendatang.
editor : NMD
sumber : kompas.com







