KALIMANTANLIVE.COM – Meletus pada 15 Januari 2022 lalu, Gunung berapi bawah laut Hunga Tonga-Hunga Ha’apai di Pasifik Selatan dengan ledakan luar biasa abad ini.
Letusan gunung berapi di Tonga itu dikonfirmasi sebagai ledakan terbesar di atmosfer Bumi yang pernah tercatat instrumentasi modern.
Menurut dua studi yang dipublikasikan di jurnal Science, ledakan ini jauh lebih besar dibandingkan peristiwa vulkanik abad ke-20, ataupun pengujian bom atom setelah Perang Dunia II.
# Baca Juga :MENGERIKAN Letusan Gunung Berapi Tonga Sebabkan Dampak Badai Matahari Parah, Kekuatannya 1000 Kali Bom Hiroshima
# Baca Juga :Gunung Anak Krakatau 3 Kali Erupsi, Muntahkan Abu Vulkanik Setinggi 2.000 Meter Jumat 25 Maret 2022
# Baca Juga :Waspada Tsunami Malam Hari! BMKG: Status Gunung Anak Krakatau Naik ke Level Siaga
# Baca Juga :Kembali Erupsi, Gunung Anak Krakatau Semburkan Abu Setinggi 1.500 Meter, Level Waspada!
Dilansir dari BBC, Minggu (15/5/2022) peneliti menyebut hanya letusan Gunung Krakatau tahun 1883 yang menyaingi gangguan atmosfer serupa seperti gunung berapi di Tonga.
Bencana alam yang terjadi di Indonesia itu, diperkirakan telah merenggut lebih dari 30.000 jiwa.
Berbeda dengan Gunung Hunga Tonga-Hunga Ha’apai yang menyebabkan lebih sedikit korban, namun memicu gelombang tsunami di berbagai wilayah di dunia.
“Tonga adalah peristiwa global, sama seperti Krakatau, tetapi saat ini kita memiliki semua sistem pengamatan geofisika dan merekam sesuatu yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam data modern,” ujar penulis utama studi dari University of California, Santa Barbara, Dr Robin Matoza.
Lebih lanjut, Matoza mengungkapkan saat ini ilmuwan mampu untuk mengakses berbagai instrumen di darat maupun luar angkasa, yang membantu mereka menganalisis letusan gunung berapi bawah laut itu.
Instrumen yang digunakan di antaranya termasuk sensor tekanan atmosfer, seismometer, telepon air, dan satelit yang memantau Bumi.
Letusan gunung berapi bawah laut di Tonga, dikatakan telah menghasilkan sejumlah gelombang tekanan atmosfer kemudian menyebar dalam jarak yang sangat jauh.
Dalam rentang frekuensi yang dapat didengar, orang-orang di Alsaka yang berjarak 10.000 km melaporkan telah mendengar dentuman berulang-ulang.
Kemudian, jaringan detektor global untuk memantau kepatuhan terhadap Perjanjian Pelarangan Uji Coba Nuklir Komprehensif (Comprehensive Nuclear-Test-Ban Treaty), turut menangkap sinyal infrasonik.
Infrasonik sendiri memiliki frekuensi lebih rendah dari gelombang yang bisa didengar manusia.
Data jaringan pun menemukan, letusan gunung berapi Tonga menghasilkan gelombang tekanan atmosfer, yang sebanding dengan ledakan nuklir terbesar, yakni bom Tsar yang milik Soviet pada 1961.
Memicu gelombang Lamb
Di sisi lain, studi tersebut juga membahas mengenai gelombang Lamb yang dihasilkan dari letusan gunung api bawah laut di Tonga.
Sebagai informasi, gelombang Lamb diambil dari nama ahli matematika awal abad ke-20, Horace Lamb.
Lamb adalah gelombang di udara yang merambat dengan kecepatan suara, di sepanjang jalur permukaan planet.
Gelombang ini, kata peneliti, tampak mengelilingi Bumi setidaknya sebanyak empat kali usai gunung berapi bawah laut Tonga meletus.










