COLOMBO, KALIMANTANLIVE.COM – Sri Lanka menderita krisis ekonomi terburuk sejak kemerdekaannya dari Inggris pada 1948.
Saat ini, Sri Lanka kehabisan stok bensin, bahkan tidak memiliki dollar untuk mengimpor bahan bakar.
Hal itu disampaikan perdana menteri baru Ranil Wickremesinghe pada Senin (16/5/2022) kemarin.
# Baca Juga :KRISIS Ekonomi, Sri Lanka Tetapkan Status Darurat Usai Perusuh Serbu Kediaman Presiden Rajapaksa
# Baca Juga :Jepang dan Italia Termasuk 5 Negara yang Tenggelam dalam Utang Terbesar di 2021, Lalu Indonesia?
# Baca Juga :Gaji ke-13 Juli 2022 Kapan Cair? Menkeu Sri Mulyani Sebut Jadwal dan Besarannya
# Baca Juga :VIRAL Video Detik-detik Seorang Pria Sri Lanka Terbang Gara-gara Tertarik Tali Layang-layang
“Kami kehabisan bensin… Saat ini, kami hanya memiliki stok bensin untuk satu hari,” ujarnya seraya memperingatkan bahwa Sri Lanka bangkrut dapat menghadapi lebih banyak kesulitan dalam beberapa bulan mendatang.
Dia menambahkan, pemerintah juga tidak memiliki dollar untuk membayar tiga pengiriman minyak.
Saat ini sejumlah kapal masih menunggu di luar pelabuhan Colombo untuk pembayaran sebelum menurunkan muatan mereka.
Sri Lanka berada dalam pergolakan krisis ekonomi terburuknya dengan 22 juta penduduknya mengalami kesulitan mendapatkan makanan, bahan bakar, dan obat-obatan sambil menghadapi rekor inflasi serta pemadaman listrik yang berkepanjangan.
Wickremesinghe mulai menjabat pada Kamis (12/5/2022) pekan lalu setelah pendahulunya, Mahinda Rajapaksa, dipaksa mundur usai berminggu-minggu terjadi demo atas penanganan pemerintah terhadap krisis ekonomi yang berubah menjadi kerusuhan.
“Beberapa bulan ke depan akan menjadi yang paling sulit dalam hidup kita,” kata Wickremesinghe. “Saya tidak punya keinginan untuk menyembunyikan kebenaran dan berbohong kepada publik.”
Namun, dia mendesak warga untuk bersabar sampai beberapa bulan ke depan dan bersumpah bisa mengatasi krisis Sri Lanka.
Dia melanjutkan, pemerintah juga kehabisan uang tunai untuk membayar gaji 1,4 juta pegawai negeri pada Mei, dan akan beralih ke pencetakan uang sebagai upaya terakhir.
“Tak seperti yang saya inginkan, saya terpaksa mengizinkan pencetakan uang untuk membayar pegawai negeri dan membayar barang dan jasa penting,” katanya.
Dia juga memperingatkan bahwa tarif bahan bakar dan listrik akan dinaikkan secara substansial dan pemerintahnya juga akan menjual maskapai nasional yang merugi untuk mengurangi kerugian.
Sri Lanka telah meminta dana talangan IMF dan salah satu tuntutan utama pemberi pinjaman internasional adalah Colombo melepaskan perusahaan negara yang merugi, termasuk Sri Lanka Airlines yang kerugiannya melebihi 1 miliar dollar AS (Rp 14,67 triliun).
editor : NMD
sumber : kompas.com







