KALIMANTANLIVE.COM – Penasihat Keamanan Nasional Amerika Serikat (AS) Jake Sullivan, mengatakan operasi uji coba nuklir atau uji coba rudal jarak jauh oleh Korea Utara bisa dilakukan sebelum, selama atau setelah perjalanan Presiden AS Joe Biden ke Korea Selatan dan Jepang.
Intelijen AS memperingatkan kemungkinan uji coba nuklir atau uji coba rudal jarak jauh, atau keduanya pada pekan ini.
# Baca Juga :WADUH! Kim Jong-un Larang Warga Korea Utara Tertawa 11 Hari, Terungkap Ini Penyebabnya
# Baca Juga :Ketahuan Selundupkan Serial Squid Game di Korea Utara, Seorang Laki-laki Dihukum Mati
# Baca Juga :Ditayangkan Langsung di Seluruh Dunia, Pemutaran Konser BTS Raup Rp467 Miliar
# Baca Juga :HASIL & Klasemen Kualifikasi Piala Dunia 2022 Zona Asia: Iran Lolos dan Unggul Dua Poin atas Korea Selatan
“Intelijen kami memang mengungkap kemungkinan yang jelas akan ada uji coba rudal lebih lanjut, termasuk uji coba rudal jarak jauh, atau uji coba nuklir, atau terus terang keduanya, pada hari-hari menjelang, pada, atau setelah perjalanan presiden ke wilayah tersebut,” kata Sullivan.
“Kami sedang mempersiapkan segala kemungkinan,” tambahnya dalam pengarahan di Gedung Putih pada Rabu (18/5/2022) sebagaimana dilansir Reuters.
Dalam kunjungan yang yang dimulai pada Jumat (20/5/2022), Presiden ke-46 AS dilaporkan tidak akan mengunjungi Zona Demiliterisasi (DMZ).
Konfirmasi itu diberikan setelah pekan lalu dia mengatakan sedang mempertimbangkan perjalanan ke garis batas yang memisahkan Korea Utara dan Selatan itu, selama kunjungannya ke Korea Selatan.
Sullivan mengatakan AS berkoordinasi erat dengan Korea Selatan dan Jepang. Dia juga telah membahas soal Korea Utara dengan rekannya dari China Yang Jiechi dalam panggilan telepon pada Rabu (18/5/2022).
Kunjungan pertama Biden ke Asia
Perjalanan Biden pada 20-24 Mei akan menjadi kunjungan pertama ke Asia sebagai presiden.
Agenda kunjungan Biden ke Asia akan mencakup pertemuan puncak pertamanya dengan Presiden Korea Selatan Yoon Suk-yeol. Pemimpin baru “Negeri Ginseng” yang mulai menjabat pada 10 Mei ini telah bersumpah akan bertindak lebih keras terhadap “provokasi” Korea Utara.
Sullivan mengatakan AS siap membuat penyesuaian jangka pendek dan jangka panjang pada postur militernya sesuai keperluan.









