“Itu kebiasaan kami sebagai jurnalis. Kami selalu bergerak dalam grup dan berdiri di depan mereka (pasukan Israel) supaya tahu bahwa kami jurnalis. Setelah itu baru bergerak,” ungkapnya.
Berdasarkan penelusuran CNN serta dua bukti baru, tidak ada militan Palestina di dekat Abu Akleh kala itu. Video tersebut ditambah dengan kesaksian delapan saksi mata dan analisis forensik suara, Abu Akleh dipastikan tewas karena menjadi target pasukan Israel.
Salim Awad salah satu warga Jenin yang merekam video berdurasi 16 menit mengaku tidak pernah menyangka akan terjadi penembakan karena tidak ada konflik, dan berada di dekat jurnalis kala itu.
“Kami sekitar 10 orang berbincang-bincang dengan jurnalis di sana. Kami tidak takut apa pun. Kami tidak menyangka itu terjadi karena ketika kami melihat ada jurnalis, kami pikir itu area aman,” kata Salim Awad.
“Kami lihat empat atau lima kendaraan dengan senapan, salah satunya menembak Shireen. Kami di sana, kami melihatnya. Ketika hendak mendekati Shireen, mereka menembaki kami. Saya coba menyeberang untuk membantu, tapi tidak bisa.”
Sebelumnya, tak lama setelah penembakan tersebut, Pasukan Pertahanan Israel (IDF) menyalahkan warga Palestina sebagai penyebab jurnalis Al Jazeera, Shireen Abu Akleh, meninggal dunia.
“Warga Palestina menembaki pasukan kami dengan skala besar, menembak secara liar dan tidak diskriminatif di semua arah,” kata Kepala Staf IDF, Mayor Jenderal Aviv Kochavi, Rabu (11/5), dikutip dari CNN.
“Tidak seperti Palestina, tentara IDF menembak secara profesional dan selektif. Di tahap ini masih tidak mungkin untuk mengetahui ia meninggal karena tembakan dari kubu mana.”
editor : NMD
sumber : CNN Indonesia







