Ungkap Kebohongan Militer Rusia, Seorang Ibu Selamatkan 2 Putranya dari Pertempuran di Ukraina

MOSKWA, KALIMANTANLIVE.COM – Untuk memenangkan pertempuran melawan Ukraina, militer Rusia telah menerjunkan banyak pasukan termasuk remaja yang masuk wajib militer.

Ini kisah seorang ibu di Rusia bernama Marina (bukan nama sebenarnya) yang berjuang menyelamatkan dua putranya yang diterjunkan dipertempuran melawan Ukraina.

Kisah berawal ketika dua putra Marina dipanggil oleh angkatan bersenjata Rusia untuk menjalani wajib militer.

# Baca Juga :Harga Mi Instan Bisa Naik, Menko Airlangga Sebut Akibat Perang Rusia-Ukraina

# Baca Juga :Sidang Kejahatan Perang Pertama di Ukraina: Tentara Rusia Mengaku Tembak Pria Tua Tak Berdosa

# Baca Juga :Balas Perbuatan Kanada, Rusia Tutup Kantor CBC News di Moskow

# Baca Juga :Lebih 250 Tentara Ukraina di Mariupol Menyerah kepada Pasukan Rusia

Perempuan itu tidak keberatan anak-anaknya melakukan dinas militer selama setahun.

“Saya katakan kepada mereka bahwa mereka harus mengabdi,” kata Marina kepada BBC.

“Ini adalah tugas mereka kepada ibu pertiwi,” tambahnya.

Namun beberapa minggu kemudian, dia mengaku mulai khawatir.

Anaknya ditugaskan di area yang dekat dengan perbatasan Ukraina.

Pada tanggal 24 Februari Presiden Vladimir Putin memerintahkan tentara Rusia untuk menginvasi Ukraina.

Pada hari itu juga, Marina hilang kontak dengan putra-putranya.

“Waktu seakan berhenti bagi saya. Saya tidak bisa makan. Saya tidak bisa tidur,” ujarnya.

“Saya berbalas pesan dengan para ibu peserta wajib militer lain dari unit yang sama. Ternyata banyak dari mereka yang hilang kontak dengan anak-anaknya juga”.

Kremlin telah berjanji bahwa tentara wajib militer Rusia tidak akan dikirim ke Ukraina.
Jadi, di manakah anak-anak Marina?

“Saya naik ke mobil dan mulai mencari. Di telepon, salah satu komandan berkeras bahwa mereka sedang latihan militer di lapangan. Saya bilang, ‘Saya sudah pergi ke semua lapangan dekat sini yang biasa dipakai latihan. Mereka tidak di sana. Mohon jangan bohong kepada saya’. Ia menutup telepon,” cerita Marina.

“Pernah, karena putus asa, saya mencoba pergi sendiri ke Ukraina dengan mobil. Tentu saja, mereka tidak membiarkan saya lewat. Ada pos pengecekan di mana-mana,” ungkap dia.

Kemudian, Marina pun menyaksikan laporan korban jiwa mulai berdatangan.

“Saya ditelepon seseorang yang mengatakan ada prajurit yang tewas dan terluka. Saya segera pergi ke rumah sakit militer,” kata dia.

Kedua putra Marina tidak di sana, tetapi dia terkejut dengan pemandangan yang terlihat.