“Di rumah sakit militer tidak ada cukup obat atau perban. Warga setempat yang menyediakan semuanya. Para prajurit kedinginan dan kelaparan. Warga lokal yang baik hati membawa makanan dan minuman ke rumah sakit,” jelas dia.
Akhirnya, seseorang di unit militer putranya mengakui bahwa mereka memang di Ukraina.
“Saya diberi tahu kabar mengerikan: ‘Anak Anda telah menandatangani kontrak militer untuk menjadi tentara profesional. Mereka mengikuti operasi militer khusus [Ukraina]. Mereka akan pulang sebagai pahlawan,” ujar Marina.
“Anda bicara apa? Mereka tidak ada rencana untuk menandatangani kontrak,” Marina menjawab.
“Mereka baru tiga bulan di militer. Mereka baru satu kali memegang senjata. Mereka baru satu kali ke lapangan tembak. Biasanya mereka hanya membersihkan salju,” jelas dia.
Marina lantas menulis surat kepada kantor jaksa agung, meminta penyelidikan.
“Saya bilang ke mereka anak-anak saya tidak mungkin menandatangani kontrak militer. Saya yakin. Ibu-ibu lain juga menulis surat. Mereka tahu anak-anak mereka,” kata dia.
Rusia mengandalkan wajib militer untuk menambah jumlah pasukan di angkatan bersenjata mereka.
Dinas militer berlangsung selama 12 bulan dan, dengan beberapa pengecualian, wajib bagi pria Rusia berusia antara 18 dan 27 tahun.
Pada 5 Maret, Presiden Putin mengumumkan bahwa hanya tentara profesional, perwira, dan prajurit kontrak yang ikut serta dalam operasi di Ukraina.
“Tidak ada satu pun wajib militer di sana dan kami tidak berencana, kami tidak akan menggunakan mereka,” kata Putin.
Tetapi, empat hari kemudian Kementerian Pertahanan Rusia mengakui, untuk pertama kali, bahwa para wajib militer ada di antara personel militer yang terlibat dalam serangan Rusia di Ukraina.
Kementerian mengeklaim bahwa hampir semua prajurit telah dikembalikan ke Rusia.
Seorang juru bicara Kremlin mengatakan, Presiden Putin telah memerintahkan kantor kejaksaan militer untuk menginvestigasi bagaimana peserta wajib militer bisa berada di Ukraina.
Komplain resmi Marina diterima.
Otoritas Rusia mengonfirmasi bahwa kedua putranya tidak menandatangani kontrak militer.
Mereka kemudian dikembalikan ke Rusia.
“Mereka mengizinkan saya untuk datang dan membawa pulang putra kedua saya hari itu juga,” kata Marina.
“Ketika saya dalam perjalanan untuk menjemput mereka, saya menelepon dan menanyakan bila ada yang dibutuhkan. ‘Ibu, saya tidak butuh apa-apa, hanya ibu’,” ucap Marina menjelaskan apa yang dijawab anaknya.
“Ketika saya melihatnya, ia terlihat sangat kacau. Anak-anak yang kembali dari sana begitu kurus, kotor, dan letih. Pakaian mereka sobek-sobek. Putra saya bilang, ‘lebih baik Ibu tidak tahu apa yang terjadi di sana’. Namun hal terpenting bagi saya adalah ia sudah pulang hidup-hidup,” jelas Marina.
Marina marah dengan apa yang terjadi.







