JAKARTA, KALIMANTANLIVE.COM – Sebuah unggahan foto soal adanya warga negara asing (WNA) asal China yang dibuatkan e-KTP untuk kepentingan Pemilu 2024 heboh di media sosial.
Mananggapi masalah itu Direktur Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dukcapil) Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) Zudan Arif Fakhrulloh membantah informasi yang beredar tersebut
Menurut Zudan, informasi tersebut menggunakan berita pada 2020 lalu.
# Baca Juga :Lockdown di China Hambat Pengembangan iPhone 14
# Baca Juga :Air di Mars Ditemukan, Penjelajah Zhurong Milik China Memiliki Bukti Kondisinya Masih Baru
# Baca Juga :Tekuk China 3-0, Tim Piala Thomas 2022 Indonesia Bangkitkan Memori Manis di Aarhus Denmark
# Baca Juga :HASIL Drawing Perempat Final Piala Thomas 2022: Juara Bertahan Indonesia Lawan China
“Ada framing menggunakan berita lama tahun 2020,” ujar Zudan dalam keterangan tertulisnya kepada wartawan, Selasa (31/1/2022).
Zudan melanjutkan, sesuai dengan UU Administrasi Kependudukan Nomor 23 Tahun 2006 juncto UU Nomor 23 Tahun 2013 dijelaskan bahwa setiap WNA yang memiliki Kartu Izin Tinggal Tetap (KITAP) diberikan e-KTP.
“Tetapi, syaratnya sangat ketat. Harus memiliki KITAP. KITAP ini diterbitkan Ditjen Imigrasi Kemenkumham,” lanjut Zudan.
Dia lantas menjelaskan soal jumlah WNA yang sudah mengurus e-KTP.
Berdasarkan data dari database di Dukcapil Kemendagri, saat ini kurang lebih 13.000 WNA yang sudah mengurus e-KTP.
“Jadi tidak ada jutaan jumlahnya. Nah WNA dari negara mana yang terbanyak ? Korea Selatan, Jepang, Australia, Belanda, China,” ungkap Zudan.
“Kemudian Amerika Serikat, Inggris, India, Jerman dan Malaysia,” lanjutnya.
Adapun informasi yang beredar di media sosial menyebutkan bahwa WNA tenaga kerja asing (TKA) asal China sudah mulai dibuatkan KTP WNI dengan nama palsu untuk disiapkan pada agenda Pemilu 2024.
Informasi itu juga memuat link berita yang menyebutkan ada dugaan keterlibatan Dukcapil Kemendagri dalam pembuatan KTP palsu untuk WNA China.
Informasi yang sama juga mengajak untuk membangun gerakan anti TKA dan Komunis China serta memboikot Pemilu 2024.
editor : NMD
sumber : kompas.com







