CANBERRA, KALIMANTANLIVE.COM – Blaine Gibson, pria asal Australia berhasil menemukan puing dari maskapai Malaysia Airline MH370 yang hilang pada 2014.
Blaine pun, sejak awal penyelidikan independennya telah mendapat apresiasi keluarga dari 239 korban.
Namun Blaine mengaku telah dihujani ancaman pembunuhan setelah meluncurkan operasi penyelidikan atas insiden jatuhnya MH370 itu.
# Baca Juga :Presiden Xi Jinping Syok Dengar China Eastern Airlines Jatuh, Petugas Penyelamat: Pesawat Benar-benar Hancur
# Baca Juga :Pesawat China Eastern Airlines Jatuh di Gunung dekat Guangxi Menyebabkan Kebakaran Hutan
# Baca Juga :Pesawat Boeing 737 China Eastern Airlines Jatuh di Guangxi, Nasib 133 Penumpang Masih Misteri
# Baca Juga :Pesawat Sriwijaya Air SJ-182 Jatuh di Kepulauan Seribu, TNI AL Kerahkan 7 KRI dan Heli Nbell 412
Kerabat yang putus asa mencari kejelasan soal pesawat, yang menghilang setelah lepas landas dari bandara Kuala Lumpur 8 Maret 2014, bahkan bergabung dengannya untuk menyisir pantai Madagaskar setelah pihak berwenang Malaysia gagal menemukan jejak.
Namun, film dokumenter terbaru dari Channel 5 mengungkap bahwa pemburu puing pesawat asal Australia ini telah dirundung oleh ancaman pembunuhan, dan merasa diikuti saat dia melanjutkan pencariannya.
Berbicara dalam program “MH370: The Vanishing” awal minggu ini, Blaine mengatakan dia takut “seseorang yang berusaha mencegah ditemukannya Malaysia Airline MH370 mungkin akan melakukan tindakan kekerasan terhadap saya … tapi saya tidak tahu siapa”.
“Saya mulai mendapatkan ancaman pembunuhan dari orang-orang yang tidak dikenal. Hal-hal seperti ‘Tidak ada pesawat, tidak ada Blaine’ dan menyuruh saya menghentikan pencarian saya,” kata dia dalam program itu sebagaimana dilansir The Sun pada Selasa (31/5/2022).
Lebih lanjut kata dia, seorang temannya bahkan mendapat telepon dari orang yang juga tidak dikenal, yang mengatakan bahwa dia “tidak akan meninggalkan Madagaskar hidup-hidup.”
“Saya sedang diikuti dan saya difoto dan, ya, itu sangat mengganggu. Itu mengintimidasi.”
Film dokumenter itu terbagi dalam tiga bagian, dan mengudara selama tiga malam berturut-turut. Isinya meneliti teori di balik hilangnya pesawat secara misterius, setelah tiba-tiba berubah arah dan menghilang dari radar setelah keluar dari kontrol lalu lintas udara Malaysia.
Episode 10 covers the mystery of Malaysia Airlines 370, go download it now! Here we have pictures of the MH370 flaperon, Blaine Gibson, the 7th arc, and the waypoints around Malaysia that we discuss early in the episode. pic.twitter.com/gnC3w7TtYl
— BlackBoxDown (@BlackBoxDownPod) June 18, 2020
Teror dan tawaran bantuan mencurigakan
Setahun setelah pesawat hilang, ketika keluarga dan teman berkumpul di Kuala Lumpur, Beijing, dan Paris, masih belum ada tanda-tanda puing-puing dari pesawat itu.
Namun pada Juli 2015, bagian dari sayap Boeing 777 ditemukan di Pulau Reunion, di Samudra Hindia Selatan.
Blaine Gibson memutuskan untuk mencari lebih banyak puing-puing karena tergerak ingin membantu keluarga menemukan kejelasan.
Meskipun tim pencari Australia memprediksi puing-puing pesawat Malaysia MH370 kemungkinan akan terdampar di Sumatera, Blaine mengikuti saran ahli kelautan terkemuka Dr Charita Pattiaratchi, yang mengklaim arus akan membuat hal itu tidak mungkin.
Pattiaratchi mendesak pria asal Australia itu untuk mencari lebih lanjut di Madagaskar dan Mozambik sebagai gantinya.
“Ketika saya sampai di sana, saya bertanya kepada penduduk setempat – nelayan, tukang perahu – di mana puing-puing dari laut lepas terdampar?” ujarnya.
“Ada gundukan pasir di luar terumbu yang terpapar ke Samudra Hindia, tempat barang-barang terdampar ke darat. Tiba-tiba tukang perahu memanggil nama saya dan berkata ‘Apakah ini Malaysia 370’?”
Segitiga abu-abu itu, bertuliskan No Step, ternyata merupakan bagian dari ekor.







