BARABAI, kalimantanlive.com – Dulu banyak didatangi wisatawan yang ingin berendam di kolam air panasny, kini keadaan wisata alam di Desa Murung B, Kecamatan Hantakan, Kabupaten Hulu Sungai Tengah itu memprihatinkan.
Sejumlah fasilitas di sekitar wisata tak terawat.
Khususnya untuk akses jalan menuju kolam air panasnya, dimana lantai titian ulin sepanjang sekitar 8 meter lapuk.
Titian dari kayu ulin tersebut terlihat bolong-bolong, sebagian pakunya pun banyak yang lepas.
Selain itu, jalan setapak masih berupa tanah, jika hujan menjadi becek.
BACA JUGA: Perjudian di Aruh Adat di HST Berujung Saling Bacok, Lim Tewas dan Tutu Diamankan Polisi
Sedangkan kondisi dinding kolam pemandian air panas yang dibangun Pemkab HST sendiri juga terlihat kotor.
Tanda kolam 1,2 yang biasa menjadi petujuk cara menggunakan kolam air panas sudah tak ada lagi.
Hanya di kolam 3 yang masih ada tanda tulisannya disertai peringatan agar tak mandi di bagian dalam yang diberi pagar kayu ulin.
Itupun hurufnya sudah buram dan nyaris tak terbaca.
Fasilitas lainnya, berupa musala, pos pungutan karcis masuk dan hingga toilet terlihat kotor.
Jika biasanya ada nenek yang menjaga toilet, Rabu (1/6/2022) tak terlihat.
Wisatawan yang berkunjung pun tak ada tempat bertanya terkait informasi wisata di sekitar.
Sementara, untuk tarif masuk dipungut penjaga dari warga setempat sebelum melewati titian jembatan rusak dan lapuk.
Adapun tarif masuknya Rp 5000 per orang, menggunakan karcis tanda masuk.
Warga setempat mengakui, wisata air panas yang dulu pernah menjadi wisata unggulan dan selalu ramai pengunjung tersebut kini sudah redup.
BACA JUGA: Mudik ke HST Tak Lengkap Bila Tak Berburu Pakasam
“Paling lebaran Idul Fitri tadi lumayan ramai. Kalau hari biasa bisa dihitung jari,” kata salah satu penjaga parkir di kawasan wisata tersebut.
Warga yang berkunjung biasanya datang untuk pengobatan.
Seperti penyakit kulit, rematik atau sekedar relaksasi tubuh, karena mandi di air hangat dipercaya bisa menyegarkan tubuh dan melancarkan peredaran darah.
Seperti diakui wisatawan dari Angkinang, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Nurhasana.
“Saya sengaja berkunjung ke sini untuk berendam, untuk Kesehatan,” katanya.
Mengenai kondisi wisata air panas yang kini sulit berkembang, Kepala Bidang Pariwisata, Dinas Pemuda, Olah Raga dan Pariwisata HST Ahmad Risqan, yang dikonfirmasi mengatakan, kendala utama pengembangannya terkait lahan di sekitar kolam yang belum sepenuhnya milik Pemkab HST.
“Karena itu kami tidak leluasa mengembangkannya. Jadi fokusnya nanti penyelesaian masalah lahan dulu. Apakah nanti mau dibebaskan atau sistem Kerjasama akan kami bicarakan lebih lanjut dengan tim yang ada,” kata Risqan.
Editor: M Khaitami
Sumber: banjarmasinpost.co.id







