Said melanjutkan, para tunanetra yang lebih tidak ikut dalam program Home Care ini sudah beberapa kali ditegur oleh petugas untuk tidak lagi melakukan berminta-minta.
“Namun kini mereka ini ada pengelolanya yang mengambil untung dari kegiatan tersebut,” ucapnya.

Disisi lain, para penyandang disabilitas yang tergabung dalam Persatuan Tunanetra Indonesia (PERTUNI) Kota Banjarbaru, mereka sangat anti terhadap kegiatan berminta-minta ini. Mereka lebih mengandalkan untuk melakukan jual beli dan membuka praktek pijat.
Sementara itu, Kepala Dinas Sosial Kota Banjarbaru Rokhyat Riyadi, SE., M.Si menyampaikan, dari 90 orang lansia yang terdaftar dalam program Home Care ada satu orang yang telah meninggal dunia.
“Lansia yang meninggal dunia ini berasal dari daerah Kelurahan Mentaos. Jadi jumlah para lansia yang tergabung dalam program Home Care ini berkurang dari 90 orang menjadi 89 orang,” tuturnya.
Dalam pelaksanaan program Home Care ini Pemerintah Kota Banjarbaru tidak membedakan perlakuan dalam segala ikhwal, yang berhubungan dengan kewarganegaraan, suku, agama, ras, golongan maupun jenis kelamin.
Untuk itu, Pemerintah Kota Banjarbaru terus berkomitmen dalam menyukseskan program Home Care untuk menciptakan Banjarbaru Kota Idaman bagi setiap insan. Agar masyarakat sehat sabarataan, Home Care sebagai solusi dan jawaban. (Yds/MedCenBJB)
editor : NMD
sumber : mediacenter.banjarbarukota.go.id








