Namun, Zulhas tak merinci lebih lanjut mengenai maksud tempat yang sudah ditunjuk itu. Hal yang pasti, ia menargetkan harga minyak goreng curah murah di 10 ribu titik lokasi.
Ia menyebut nantinya pemerintah akan memantau harga dan distribusi minyak goreng melalui Sistem Informasi Minyak Goreng Curah (SIMIRAH).
SIMIRAH merupakan platform yang memiliki beberapa tampilan fitur, antara lain informasi tentang produksi, pelacakan distribusi MGC, sebaran pendistribusian (lokasi produsen dan distributor), dan real-time distribusi nasional.
Fitur-fitur tersebut digunakan untuk memantau proses distribusi minyak goreng curah. Janji Zulhas itu rupanya diamini oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi).
Dalam pembukaan Sidang Kabinet Paripurna awal pekan kemarin, ia mengatakan Zulhas dan Menteri Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Panjaitan meminta waktu dua minggu sampai satu bulan untuk menurunkan harga minyak goreng curah menjadi Rp14 ribu per liter.
“Tadi saya menanyakan kepada pak menko marinvest dan tanya juga ke pak mendag yang baru, masih minta waktu dua minggu sampai satu bulan agar (harga minyak goreng curah) merata. Saya kira secepatnya agar harga terjangkau oleh masyarakat bawah,” ungkap Jokowi.
Zulhas Tidak Realistis
Peneliti Indef Nailul Huda menilai janji Zulhas untuk menyelesaikan masalah dan menurunkan harga minyak goreng itu tidak realistis dan kemungkinan hanya jadi isapan jempol. Pasalnya, harga crude palm oil (CPO) global pun sedang naik saat ini. Selain itu, permintaan bahan baku minyak goreng pun tengah meningkat.
“Jadi saya rasa janji beliau hanya isapan jempol belaka,” ujarnya kepada CNNIndonesia.com.
Berdasarkan riset Departemen Pertanian Amerika Serikat (USDA) dan Refinitiv, permintaan CPO global akan mencapai 50,6 juta ton untuk periode November 2021-Oktober 2022. Angka tersebut meningkat sebesar 6,3 persen dibanding periode November 2020-Oktober 2021.
Permintaan CPO terbesar diproyeksikan berasal dari India, yakni mencapai 8,6 juta ton. Permintaan CPO dari India itu diprediksi meningkat selaras dengan pembukaan kembali kegiatan usaha, pemotongan bea masuk minyak sawit, dan pencabutan pembatasan impor RBD palm olein.







