TAPIN, KALIMANTANLIVE.COM – Ada sejumlah jenis cabai, dari cabai merah atau hijau besar, cabai rawit, cabai keriting.
Adapun jenis cabai yang dikenal memiliki tingkat kepedasan lebih tinggi di antaranya cabai gendot, cabai jalapeno, hingga cabai katokkon.
Namun di antara beberapa jenis cabai tersebut, masih ada satu jenis yang diklaim sebagai cabai terpedas di Indonesia dengan tingkat kepedasan jauh dibanding cabai-cabai yang selama ini bisa didapat dengan mudah, yaitu cabai rawit hiyung.
# Baca Juga :Hari Jadi Ke-27 Kalsel, Pemprov Kalsel Sulap Jalan Lambung Mangkurat Jadi Lokasi Permainan Tradisional
# Baca Juga :Malam Ini ALMA Docking Station di Pelabuhan Banjar Raya Diresmikan Gubernur Kalsel
# Baca Juga :5 FAKTA Investasi Bodong Ala Pedangdut Asal HSS, dari Dilaporkan hingga Nilai Kerugian Rp 4 Miliar
# Baca Juga :Meriahkan Hari Bhayangkara, Digelar Lomba Panahan Horsebow Kapolres HST Cup 2022
Sesuai namanya, cabai ini hanya tumbuh di Desa Hiyung, Kecamatan Tapin Tengah, Kalimantan Selatan. Bukan berarti jenis cabai ini tidak bisa ditanam di daerah lain, tentu bisa namun menurut keterangan petani sekitar kepedasannya akan jauh berkurang, bahkan cenderung tidak pedas.
Memang, dari hasil penelitian Laboratorium Pengujian Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen milik Kementerian Pertanian RI, cabai hiyung memiliki tingkat kepedasan tinggi dengan kandungan kapsaisin atau zat kimia yang menimbulkan rasa pedas mencapai 2333,05 ppm, atau setara dengan 17 kali lipat kepedasan dibanding cabai biasa.
Cabai Hiyung memiliki kandungan kapsaisin atau zat kimia yang menimbulkan rasa pedas mencapai 2333,05 ppm, atau setara dengan 17 kali lipat kepedasan dibanding cabai biasa.
Melansir pantaugambut.id, cabai hiyung memiliki keunggulan dari segi keawetan yang disebut bisa bertahan hingga 8 sampai 10 hari.
Hal tersebut sudah dibuktikan oleh Ketua Asosiasi Cabai Hiyung, Junaidi. “Boleh dibilang cabai terpedas dan terawet di Indonesia menurut penelitian itu. Kalau di tingkat dunia, belum ya. Tapi kita bangga punya cabai ini,” jelasnya.
Kendati begitu, ia mengklaim, cabai rawit hiyung sudah mendunia. “Sejumlah negara mulai tertarik dan mengetahui. Upaya kita belum sampai ke situ dulu. Menuju ekspor belum memadai dari segi sumber daya manusia dan bahan yang tersedia,” kata mantan Sekdes Desa Hiyung itu.
Dia bilang, luas lahan cabai rawit di Desa Hiyung sekitar 145 hektar dengan 10 kelompok tani rawit. Masing-masing petani, kata dia memiliki setengah hektar saja.
Dalam sebulan, Kelompok Tani Usaha Bersama (KTUB) produksi 400 kemasan, baik abon dan sambel hiyung.
Bahan baku cabai hiyung diperoleh dari panen selama setahun—efektif panen sekitar enam bulan saat musim hujan, ada sekitar 500 kilogram.
Kehadiran cabai hiyung pertama kali bermula dari seorang petani bernama Soebarjo yang membawa bibit cabai dari desa tetangga yaitu Desa Linuh, Kecamatan Bungur, Kabupaten Tapin pada tahun 1993.







