kalimantanlive.com – Tingginya inflasi dan lonjakan harga BBM mulai menghantui sebagian warga Amerika.
Setelah lepas dari ancaman pandemi covid-19, sebagian warga Amerika justru dibayangi ketakutan resesi di negara itu.
Majalah Fortune pada Rabu (6/7) seperti dikutip Xinhua melaporkan sebagian warga Amerika memikirkan situasi keuangan mereka dan bertanya-tanya bagaimana nasib mereka dalam beberapa bulan ini,
Monmouth University Polling Institute menemukan bahwa 42 persen warga AS mengatakan mereka mengalami kesulitan untuk mempertahankan kondisi keuangan mereka, ungkap sebuah jajak pendapat baru yang dirilis pada Selasa (5/7).
Lembaga itu melakukan survei antara 23-27 Juni menggunakan sampel acak nasional terhadap sekitar 1.000 orang responden berusia di atas 18 tahun.
BACA JUGA: Penembak Mantan PM Jepang Shinzo Abe Mengaku Punya Dendam
“Angka ini merupakan yang tertinggi sejak lembaga survei tersebut mulai mengajukan pertanyaan lima tahun yang lalu,” sebut laporan itu.
Sebelumnya, angka itu berkisar antara 20 hingga 29 persen.
Namun, dalam setahun terakhir saja, angka ini naik 18 persen, setelah akses luas untuk mendapatkan vaksin COVID-19 memungkinkan dicabutnya pembatasan era pandemi pada perekonomian, yang memunculkan harapan bahwa pemulihan penuh sudah dekat, menurut laporan itu.
Jajak pendapat ini juga memerinci penyebab ketidakamanan finansial.
Persentase responden yang bahkan lebih tinggi lagi, yakni 48 persen, menyebutkan bahwa baik inflasi maupun kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) sebagai kekhawatiran terbesar mereka.
Tekanan finansial utama lainnya mencakup ekonomi secara keseluruhan sebanyak 9 persen responden, dan pembayaran tagihan sehari-hari sebanyak 6 persen responden.
Editor: M Khaitami
Sumber: Xinhua








