Warga Anamas Banjarmasin Ditemukan Meninggal di Sungai, Ini Bahayanya Epilepsi?

BANJARMASIN, KALIMANTANLIVE.COM – Seorang pria bernama Markoni (40) ditemukan tenggelam di sungai, Komplek Anamas, Banjarmasin Barat, Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan, Rabu (13/7/2022).

Menurut keterangan warga, korban diduga memiliki riwayat penyakit ayan atau Epilepsi.

“Kalau penyakitnya ayan atau gila babi, kalau terkena air bisa kejang-kejang beliau,” ujar Joni warga setempat seperti dikutip di apahabar.com.

# Baca Juga :Tiga Jam Mencari, Korban Tenggelam di RK Ilir Banjarmasin Ditemukan Tak Bernyawa

# Baca Juga :KRONOLOGI Seorang Tenggelam di Jembatan RK Ilir Banjarmasin, Gegara Jukungnya Karam

# Baca Juga :Dikeliling Sejumlah Buaya, Korban Tenggelam di Tanahbumbu Ditemukan, Kondisinya Penuh Luka Gigitan

# Baca Juga :15 Penumpang Tak Ditemukan, Proses Pencarian Korban Tenggelamnya KM Ladang Pertiwi Dihentikan

Awalnya, kata dia, warga tidak mengetahui keberadaan Markoni mulai dini hari tadi, namun terdapat sendal dan ember di pinggiran sungai yang biasa digunakan warga untuk mandi.

“Yang melihat orang daerah sana,” ucapnya.

Jenazah pun dievakuasi melalui rekanan emergency dan dibawa langsung ke rumah duka, di sekitar lokasi tenggelam.

Proses salat jenazah dan penguburan juga dilakukan pihak keluarga.

Apa Itu Penyakit Epilepsi?

Epilepsi adalah gangguan pada sistem saraf pusat akibat pola aktivitas listrik yang berlebihan di otak.

Hal ini menyebabkan penderitanya mengalami kejang secara berulang pada sebagian atau seluruh tubuh.

Seseorang dinyatakan menderita epilepsi jika pernah mengalami kejang lebih dari satu kali tanpa penyebab yang jelas.

Epilepsi dapat diderita oleh semua kelompok usia, tetapi biasanya epilepsi dimulai saat masih anak-anak.

Gejala dan Penyebab Epilepsi

Kejang merupakan gejala utama epilepsi. Kejang pada penderita epilepsi terbagi menjadi dua tipe, yaitu kejang total dan kejang parsial.

Oleh karena itu, gejala yang menyertai kejang dapat bervariasi sesuai tipenya.

Penyebab epilepsi belum diketahui secara pasti.

Namun, ada beberapa kondisi yang diduga dapat memengaruhi pola aktivitas listrik otak, yaitu cedera kepala, meningitis, dan cerebral palsy.

Selain itu, ada beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko seseorang terserang epilepsi, yaitu:

*Riwayat epilepsi pada keluarga
*Stroke
*Demensia

Pengobatan dan Pencegahan Epilepsi

Epilepsi tidak dapat disembuhkan. Namun, ada obat-obatan yang dapat dikonsumsi untuk mengurangi frekuensi kejang.

Jika pemberian obat-obatan tidak cukup efektif, dokter dapat merekomendasikan operasi.

Penderita gangguan kesehatan tertentu dapat menurunkan risiko terkena epilepsi dengan mengonsumsi makanan bergizi seimbang, berolahraga, dan tidak merokok.

Sedangkan pada ibu hamil, risiko terjadinya epilepsi pada bayi dapat dikurangi dengan rutin memeriksakan kandungan.

editor : NMD
sumber : kalimantanlive.com/apahabar.com/alodokter.com