Mau Naikan Harga Mi Instan, Produsen di Thailand Minta Izin ke Pemerintah, Ini Pertama Kalinya

BANGKOK, KALIMANTANLIVE.COM – Perang Ukraina vs Rusia, serta kekeringan dan banjir selama setahun terakhir, telah menyebabkan harga gandum, energi dan biaya transportasi meningkat tajam.

Bukan hanya itu, akibat kondisi itu telah mempengaruhi harga mi di seluruh Asia.

Di Thailand, lima produsen utama mi instan mendesak pemerintah untuk mengizinkan mereka menaikkan harga dalam waktu seminggu.

# Baca Juga :Ini Negara Pemakan Mi Instan Terbanyak di Dunia, Indonesia Lebih Hebat dari Jepang & India

# Baca Juga :Harga Mi Instan Bisa Naik, Menko Airlangga Sebut Akibat Perang Rusia-Ukraina

# Baca Juga :PPN Jadi 11 Persen, Ini Daftar Barang dan Jasa yang Berpotensi Naik, dari Minyak Goreng hingga Mi Instan

# Baca Juga :Ramah di Kantong, Inilah Restoran Unik di Thailand yang Sajikan 70 Jenis Mi Instan dari Seluruh Asia

Tuntutan itu diajukan mengingat adanya kenaikan biaya produksi, yang mempengaruhi salah satu bahan makanan paling populer di negara itu.

Seperti dikutip di kompas.com, di Thailand, tingkat inflasi mencapai 7,61 persen pada Juli, hanya turun sedikit dari level tertinggi 14 tahun pada bulan sebelumnya.

Pemerintah “Negeri Gajah Putih” akhirnya berupaya mengontrol harga barang-barang penting tertentu, dalam upaya mengurangi tekanan pada konsumen.

Batasan harga diperuntukkan untuk barang-barang mulai dari bahan bangunan, telur, minyak goreng, termasuk mi, yang disukai banyak orang karena murah dan mengenyangkan.

Produsen mi instan Thailand Mama, Wai Wai, Yum Yum, Nissin, dan Suesat telah memperingatkan bahwa batasan harga saat ini pada produk mereka tidak berkelanjutan.

Dalam surat bersama yang disampaikan kepada pemerintah Thailand minggu ini, perusahaan-perusahaan tersebut meminta harga naik dari 6 bath (Rp 2.500) menjadi 8 baht (Rp 3.3000).

Ini akan menjadi kenaikan pertama harga eceran mi instan Thailand sejak 2008.

Pabrik Produk Makanan Thailand, produsen Wai Wai mengklaim bahwa beberapa produknya sudah jual rugi. Perusahaan pun mengancam akan mengurangi penjualannya di Thailand demi pasar luar negeri, kecuali jika harga jual boleh dinaikkan.

Perwakilan perusahaan tidak segera tersedia untuk memberikan komentar pada Rabu (17/8/2022) menurut Guardian.

Produsen mengatakan biaya produksi mereka meningkat tajam karena invasi Rusia ke Ukraina, yang telah mendorong naiknya harga tepung terigu dan minyak.

Pemerintah Thailand kini mempertimbangkan permintaan mereka, meskipun menteri perdagangan Jurin Laksanawisit mengatakan kepada media Thailand bahwa dia yakin kenaikan menjadi 8 baht terlalu tinggi dan ini akan membebani konsumen.