KALIMANTANLIVE.COM – Tergiur gaji tinggi dan minimnya pekerjaan di dalam negeri, mendorong orang mendaftar sebagai Anak Buah Kapal (ABK) di kapal-kapal ikan asing.
Kapal-kapal ikan yang paling sering menampung ABK Indonesia umumnya berasal dari Taiwan, China, dan Korea Selatan.
Risiko bekerja di atas kapal asing sebenarnya sudah jadi rahasia umum. Dari mulut ke mulut, cerita perlakukan buruk dari mereka yang pernah bekerja di kapal asing sudah sering didengar.
# Baca Juga :Diduga Bangkai Kapal China Pembawa Harta Karun Ditemukan di Pantai Lombok Timur
# Baca Juga :Mondar-mandir di Laut Natuna dengan Leluasa, Kapal Survei China Diduga Lakukan Penelitian
# Baca Juga :WAH Gawat! Lima Rudal China Masuk Wilayah ZEE Jepang, Nobuo Kishi: Pertama Kalinya
# Baca Juga :Militer Taiwan Marah dan Kerahkan Jet Tempur Usir 29 Pesawat China yang Wilayah Mereka
Seperti sejumlah pemuda asal Aceh mengaku tergiur iming-iming gaji besar dan bekerja sebagai ABK berbendera China.
Sempat bertahan dalam kondisi “seperti perbudakan dan penuh penyiksaan”, pegiat HAM mengatakan negara harus hadir.
Muhammad Sidik (28) berkata tidak akan pernah lagi tergiur untuk bekerja di kapal asing, betapa pun besar iming-iming gaji yang ditawarkan.
Pengalamannya pada 2019, ia sebut sebagai kesalahan terbesar dan tidak akan diulangi lagi.
Tiga tahun lalu, Sidik sebetulnya sudah bekerja sebagai Tenaga Harian Lepas (THL) di salah satu kantor pemerintahan Kota Lhokseumawe dengan gaji Rp 300.000 per bulan.
Pertemuannya dengan seorang agen, orang yang dipercaya dan telah dikenalnya sejak lama mengubah jalan hidupnya.
Agen itu menawari Sidik bekerja di atas kapal penangkap cumi-cumi asal China dengan gaji pokok sebesar US$300 per bulan, atau sekitar Rp4,2 juta.
“Katanya, panjang kapal 150 meter dan pekerjaan [di kapal] dilakukan oleh robot,” cerita Sidik kepada wartawan Aceh, Hidayatullah, yang melaporkan untuk BBC News Indonesia seperti dikutip di kompas.com.
Bertekad untuk memperbaiki kondisi ekonomi, pada Mei 2019, Sidik mengemasi pakaian dan berangkat dari Aceh ke Jawa untuk bersiap menjadi ABK.
Dari Pulau Jawa, setelah menunggu pengurusan berbagai dokumen dan kontrak kerja, dia dan beberapa orang lain dikirim ke Beijing untuk selanjutnya menunggu keberangkatan kapal penangkap cumi yang dijanjikan.
Baru naik geladak, Sidik segera menyadari bahwa janji-janji sebelumnya adalah bohong. Kapal yang ditumpanginya hanya sepanjang 75 meter dan seluruh pekerjaan dilakukan secara manual oleh ABK seperti dia.
Kehidupan di tengah laut yang keras langsung menghadapinya.







