JAKARTA, KALIMANTANLIVE.COM – Cacar monyet yang kini telah menyebar di lebih 80 negara menjadi kekhawatiran tersendiri. Bahkan, ahli mengingatkan bahwa cacar monyet bisa menyebar tanpa gejala.
Wabah cacar monyet saat ini, yang dimulai pada bulan Mei dan meningkat selama bulan-bulan musim panas, sangat tidak biasa.
Monkeypox telah ada di Afrika selama beberapa dekade dan biasanya menyebar dari kontak dengan hewan.
Namun di Inggris, AS, Eropa, dan tempat lain, jalur utama penularan adalah aktivitas seksual.
# Baca Juga :India Jadi Negara Asia Pertama dengan Kasus Kematian Cacar Monyet, Korbannya Seorang Pemuda
# Baca Juga :Kasus Pertama Cacar Monyet Ditemukan dari Seorang Pria Nigeria di Phuket Thailand
# Baca Juga :Satu Pasien Meninggal, Puluhan Kasus Cacar Monyet Bermunculan di Nigeria
# Baca Juga :Cacar Monyet Menyebar di Eropa, Belanda Konfirmasi Kasus Pertama
Saat ini, seperti dikutip di CNNIndonesia.com, cacar monyet telah ditetapkan sebagai darurat kesehatan global. Sejak dilaporkan di negara non-endemik pada Mei lalu, kini lebih dari 18 ribu kasus cacar monyet ditemukan di seluruh dunia.
Meski demikian, cacar monyet sebenarnya bukan penyakit baru seperti Covid-19. Penyakit ini sudah menjadi epidemi di negara Afrika dan sekitarnya sejak 1970 lalu.
Namun demikian, gejala klinis yang diperlihatkan oleh sejumlah pasien cacar monyet baru-baru ini dengan yang sebelumnya terlihat memiliki perbedaan.
Pertanyaannya kemudian, apakah virus Monkeypox penyebab cacar monyet punya kemampuan bermutasi seperti virus lainnya?
Dokter Penyakit Dalam di Rumah Sakit St. Carolus Salemba, Robert Sinto mengatakan, mutasi pada cacar monyet hingga menghasilkan varian dan subvarian baru tentu bisa terjadi.
Bahkan, kata dia, setelah tiga bulan dilaporkan, telah ditemukan kurang lebih 50 ribu titik baru mutasi cacar monyet yang kemungkinan bisa berkembang menjadi varian baru.
“Iya laporan saat ini memang ada titik mutasi baru. Ini jika dibandingkan dengan tahun 2018-2019 ya,” kata Robert dalam konferensi pers pemaparan terkait perkembangan Monkeypox oleh Kementerian Kesehatan, beberapa waktu lalu.
Robert menjelaskan, sifat virus memang selalu berkembang. Dia akan mengikuti inangnya untuk bertahan hidup.
Robert juga mengatakan bahwa tak menutup kemungkinan jika wabah cacar monyet yang saat ini terjadi disebabkan oleh mutasi baru virus Monkeypox.
“Kalau dilihat, kan, ada perbedaan [gejala], bisa jadi yang ini adalah varian baru hasil mutasi,” kata dia.










