Ini Penyebab Usaha Kerajinan Sepuh Emas Ditinggalkan Warga di Banjarmasin

BANJARMASIN, KALIMANTANLIVE.COM – Kerajinan sepuh emas belakangan ini banyak ditinggalkan masyarakat, lantaran harga emas terus melambung hampir tak terjangkau kantong para perajin.

Padahal usaha ini dulunya banyak digeluti masyarakat Kota Banjarmasin dan sekitarnya untuk dijadikan penopang hidup mereka sehari hari.

Namun, usaha sepuh emas ini banyak ditinggalkan, dan para perajinnya terpaksa beralih profesi ke bidang lain.

# Baca Juga :2 Maling Bobol Bengkel di Kuin Cerucuk Banjarmasin, Beraksi Rusak Gembok Pintu

# Baca Juga :Beruntung, Dua Warga Banjarmasin Terima Hadiah Undian Vaksinasi Merdeka dari Kapolresta Kombes Sabana

# Baca Juga :Kapolresta Banjarmasin Kombes Sabana Ajak Masyarakat di Jalan Raya Ikuti Detik-detik Proklamasi

# Baca Juga :Wali Kota Banjarmasin Ibnu Sina Ucapkan Selamat ke Warga Binaan Lapas yang Dapat Remisi Kemerdekaan

Amin, salah satu perajin yang biasa manggal di jalana Simpang Sudimampir Banjarmasin kepada Antara Kalsel, Senin, mengakui usaha tersebut banyak ditinggalkan lantaran biaya produksi yang sangat mahal.

Dulu puluhan perajin mangkal di kawasan pusat perdagangan Banjarmasin tersebut sekarang tinggal hanya enam perajin saja lagi.

Kerajinan sepuh emas adalah merubah aneka logam menjadi warna emas, seperti perak, tembaga, alpaka, kuningan, perunggu, dan sawasa. Biasa yang dirubah menjadi warna emas tersebut adalah bahan perhiasan, seperti cincin pria dan wanita, liontin, kalung, dan sebagainya.

Menurut Amin yang mengaku menggeluti usaha tersebut secara turun temurun itu, kurangnya usaha tersebut lantaran harga emas yang terus melambung hingga Rp900 ribu per gram.

Emas tersebut adalah bahan baku untuk kerajinan tersebut setelah dicairkan melalui proses.

Kemudian air cairan emas itulah yang digunakan untuk merubah logam dari warna logam biasa menjadi logam emas kuning.