“Kalau masyarakat yang berada sedikit di atas garis kemiskinan ini punya motor butut, dikasih orang misalnya. Berarti, pengeluaran untuk bensin bertambah,” ucap Faisal.
Selain itu, tarif angkutan umum juga berpotensi naik jika pemerintah mengerek harga Pertalite atau Solar. Dengan demikian, biaya yang harus dibayar penumpang akan semakin mahal.
Terlebih, beberapa truk pengangkut barang atau sayur-mayur biasanya menggunakan Solar bersubsidi. Biaya operasional pedagang tentu ikut bertambah dari sebelumnya.
Pedagang sudah pasti akan membebani kenaikan harga itu kepada konsumen dengan menjual bahan pangan lebih mahal. Sebab, tidak mungkin pedagang menjual sayur-mayur sesuai harga modal.
“Dampak tidak langsungnya, harga makanan jadi lebih mahal. Beras, minyak, gula, menjadi lebih mahal karena BBM naik. Bahan pangan kena,” kata Faisal.
Sementara itu, sebagian besar pengeluaran masyarakat kelas menengah bawah digunakan untuk makan. Tentu, kenaikan harga pangan akan berpengaruh besar terhadap hidup mereka.
“Orang di sekitar garis kemiskinan ini kan porsi pengeluaran untuk makanan tinggi terhadap total belanja mereka per bulan, sehingga rentan dengan kenaikan harga pangan dibandingkan dengan orang kaya atau menengah,” jelasnya.
Di sisi lain, pendapatan masyarakat kelas menengah bawah tidak meningkat dari sebelumnya. Bahkan, beberapa dari mereka belum mendapatkan upah seperti sebelum pandemi.
“Ada yang sudah kembali bekerja, tapi upah belum balik seperti pra pandemi. Upah belum pulih, biaya hidup naik, jadi lebih miskin,” ucapnya.
Karenanya, ia memperkirakan jumlah orang miskin berpotensi naik, bahkan hingga ratusan ribu orang. “(Jumlah orang miskin) bertambah lebih dari 100 ribu orang, angka persisnya belum saya kalkulasi,” kata Faisal.
Lebih dari itu, ia memproyeksi inflasi pangan berpotensi tembus hingga 15 persen jika harga BBM subsidi naik. Lalu, inflasi umum berpeluang menjadi 7 persen sampai 8,5 persen tahun ini.
“Dampaknya besar sekali ke masyarakat menengah bawah, garis kemiskinan akan naik, kalau garis kemiskinan naik, mereka yang tadinya di sekitar garis kemiskinan akan jatuh di bawah garis kemiskinan. Jumlah orang miskin akan naik,” ungkap Faisal.
Inflasi dan Ekonomi Jadi Taruhan
Senada, Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede berpendapat jumlah orang miskin akan bertambah jika harga Pertalite dan Solar naik. Kemampuan masyarakat menengah bawah jelas akan berkurang signifikan.
“Dampak dari kenaikan harga BBM itu yang berimplikasi kepada penurunan belanja yang lain, ini bisa berdampak pada kemiskinan. Jumlah orang miskin bertambah,” tutur Josua.
Biasanya, harga pangan yang paling berdampak jika harga BBM subsidi naik. Selain itu, harga barang lain yang menggunakan jasa logistik juga akan semakin mahal.
Belum lagi, biaya operasional angkutan umum berpotensi meningkat usai harga BBM naik. Kalau sudah begitu, masyarakat harus siap-siap merogoh kocek lebih dalam untuk membayar tarif angkutan umum.
“Terus ojek online, taksi online, semua pasti akan naik juga. Jadi artinya dampak tidak langsungnya besar, apalagi Solar,” terang Josua.







