Selain itu, pemerintah juga bisa memanfaatkan tawaran Rusia yang menjual minyak mentah dunia lebih murah 30 persen dibandingkan harga pasar internasional. “Lebih murah 30 persen pengaruh banget, bisa jadi opsi,” sarannya.
Jika biaya impor minyak bisa ditekan, maka pemerintah tak perlu menaikkan harga Pertalite dan Solar secara signifikan. Misalnya, harga Pertalite tetap di bawah Rp10 ribu per liter.
Sebelumnya, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Uno mengatakan Rusia sudah menawarkan Indonesia untuk membeli minyak dari Negeri Beruang Merah itu dengan harga lebih murah 30 persen dibandingkan harga pasar internasional.
Bahkan, Rusia mengatakan RI tak perlu takut dengan ancaman embargo AS. Sebab, Indonesia bisa membeli minyak dari Rusia dan membayarnya dengan rubel. “Kata Rusia tidak perlu takut, bayar pakai rubel saja. Konversi rupiah ke rubel,” ungkap Sandiaga lewat Instagram-nya @sandiuno.
Beberapa pihak, sambung Sandiaga, memang ragu untuk mengimpor minyak dari Rusia karena takut diembargo oleh AS. Ketika diembargo, maka bank asal RI berpotensi didepak dari sistem Society for Worldwide Interbank Financial Telecommunications (SWIFT).
SWIFT merupakan sistem yang menghubungkan ribuan lembaga keuangan dunia, sehingga bank dapat mengirim dan menerima pesan transaksi dengan cepat dan aman. Dengan SWIFT, transaksi keuangan saat ini dapat dilakukan antar negara bahkan antar benua.
Ia menambahkan bahwa Jokowi sudah setuju mengimpor minyak dari Rusia karena harganya lebih murah daripada harga pasar internasional.
“Rusia nawarin ke kita, eh lu mau nggak India sudah ambil nih minyak kita harganya 30 persen lebih murah daripada harga pasar internasional. Kalau buat teman-teman CEO Mastermind ambil nggak? Ambil. Pak Jokowi pikir yang sama, ambil,” tutup Sandiaga.
Editor : NMD/Kalimantanlive.com







