Warga di Kota Chongqing, Ma Jing, mengatakan ia dan suaminya tidak berencana punya anak meski pemerintah menjanjikan insentif.
“Saya hidup dari bayaran demi bayaran, dan saya sangat mengandalkan orang tua saya. Properti tempat saya tinggal milik mereka, saya menyetir mobil ibu saya, dan saya masih tak bisa menabung uang,” tutur Ma.
“Kebijakan ini mungkin mengizinkan saya memiliki tiga anak, tetapi saya tak akan melakukannya, saya tak memiliki keinginan itu,” lanjutnya.
3. Semakin Banyak Warga China Ogah Menikah
Berdasarkan laporan berjudul ‘The Challenges of Low Birth Rate in China,’ angka pendaftaran pernikahan di China turun selama tujuh tahun berturut-turut sampai 2020.
Pada 2020, hanya 8,1 juta pasangan di China yang menikah. Angka ini menurun sebanyak 12 persen dari tahun sebelumnya, pun turun drastis ketimbang 2013.
Pada 2013, sebanyak 13,4 juta pasangan di China menikah.
Penurunan angka pendaftaran ini salah satunya disebabkan karena alasan psikologis, pun merasa cukup sampai pada tahap tinggal bersama.
Tak hanya itu, penerapan kebijakan satu anak di masa lampau turut mempengaruhi calon orang tua di China. Kebanyakan masyarakat yang dibesarkan sebagai anak tunggal percaya mereka harus memiliki satu anak.
Pemikiran itu muncul karena mereka merasa anak mereka patut mendapatkan hidup yang baik dengan cara memberikan semua sumber daya keluarga ke anak tersebut.
4. Xi Tawarkan Berbagai Keuntungan Bagi Pasangan yang Ingin Anak
Presiden Xi Jinping menawarkan berbagai keuntungan untuk pasangan yang ingin memiliki anak, seperti insentif pajak dan perumahan.
Pemerintah juga menjanjikan lingkungan kerja ramah kehamilan dan peningkatan layanan penitipan anak.
Editor : NMD/Kalimantanlive.com










