Resesi Seks Hantam China, Warga Takut Menikah dan Takut Melahirkan

KALIMANTANLIVE.COM – Istilah resesi seks pernah disinggung oleh editor senior The Atlantic, Kate Julian, pada 2018.

Dalam sebuah artikel, seperti dikutip di CNNIndonesia.com, Julian menyoroti berkurangnya kegiatan seks generasi muda di Amerika Serikat dan menyebutkan sebagai ‘resesi seks.’

Saat ini, China mengalami ‘resesi seks’ itu, hal itu terungkap setelah usai angka populasi di negara itu semakin turun.

# Baca Juga :Cerita Pilu WNI Bekerja di Kapal China, Konsumsi Makanan Busuk, Dipukul, Disiksa, Dilarung dan Tak Dibayar

# Baca Juga :Kasus Covid-19 di China Bertambah Lagi, Tercatat 2.116 Kasus Baru

# Baca Juga :Obat Coid-19 Sudah Beredar di China, Dijual Seharga Rp659 Ribu

# Baca Juga :WAH Gawat! Lima Rudal China Masuk Wilayah ZEE Jepang, Nobuo Kishi: Pertama Kalinya

Ini membuat Presiden Xi Jinping menempuh berbagai cara demi meningkatkan kembali populasi Negeri Tirai Bambu.

Inilah fakta-fakta mencengangkan terkait resesi seks di China:

1. Populasi Warga Terus Turun

Berdasarkan penelitian berjudul ‘The Challenges of the Low Birth Rate in China,’ angka kelahiran di China hanya menyentuh 7,52 kelahiran per 1.000 orang pada 2021.

Angka tersebut lebih rendah ketimbang tahun sebelumnya, yang mencapai 8,52 kelahiran per 1.000 orang.

Tak hanya itu, angka kelahiran pada 2021 disebut-sebut menjadi yang paling rendah sejak 1949.

2. Perempuan China Takut Punya Anak

Beberapa perempuan China dikabarkan takut untuk memiliki anak.

Qiu Xiaojia, perempuan milenial dari Kota Hangzhou mengatakan ia tak berencana punya anak.

“Kami telah membeli rumah, dan biaya pinjaman bulanannya lebih tinggi daripada gaji bulanan saya. Jadi dari mana saya bisa mendapat uang untuk anak saya?” katanya kepada Radio Free Asia.

Warga China lain dari Kota Changsha, bermarga Li, mengatakan ia tak ingin menambah anak lagi.

“Saya tak bisa menambah anak. Membesarkan satu anak seperti menempatkan uang Anda ke mesin penghancur kertas,” tutur Li.