Anggota DPR Dinilai Tak Serius Awasi Kasus Sambo, Suara ‘Sayang’ Jadi Buktinya

JAKARTA, KALIMANTANLIVE.COM – Rapat pembahasan penembakan dan pembunuhan Brigadir J antara Komisi III DPR dengan Kapolri dihebohkan panggilan Sayang di tengah-tengah rapat.

Suara panggilan Sayang ini bikin heboh di media sosial salah satunya TikTok.

Ini terjadi saat anggota Komisi III DPR Habiburokhman akan menyampaikan usulan.

# Baca Juga :Respons Kapolri Listyo yang Singgung Kasus Tewasnya Laskar FPI KM 50: “Apa Peluru Bisa Belok?”

# Baca Juga :MENDADAK GADUH, Dirapat Komisi III DPR-Kapolri Terdengar Suara Perempuan Panggil Sayang

# Baca Juga :Kapolri Listyo Sigit Tiba di DPR untuk Jelaskan Pembunuhan Brigadir J dengan Tersangka Ferdy Sambo

# Baca Juga :Deretan 24 Nama Polisi yang Dimutasi Kapolri karena Langgar Etik di Kasus Ferdy Sambo

Kelompok masyarakat sipil yang tergabung dalam DPP Pembela Kesatuan Tanah Air Indonesia Bersatu (Pekat IB) menilai bahwa Komisi III DPR tak serius mengawasi penanganan kasus Irjen Ferdy Sambo.

Ketua Infokom Pekat IB, Lisman Hasibuan mengaku kecewa sebab rapat Komisi III DPR bareng Kapolri pada Rabu (24/8) justru jadi bahan guyonan. Terutama saat suara ‘sayang’ bocor lewat mikrofon dan terdengar di tengah rapat.

“Kok Komisi III dibuat macam wayang golek, macam Srimulat kan gitu. Nah ini kami rakyat sangat kecewa dengan adanya bahan candaan,” kata Lisman di kompleks parlemen, Jumat (26/8/2022), seperti dikutip di CNNIndonesia.com.

Lewat organisasinya, Lisman telah melaporkan insiden suara ‘sayang’ saat rapat ke Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD). Ia melaporkan anggota Komisi III dari fraksi PKS sekaligus Ketua MKD Aboe Bakar al-Habsy.

Berdasarkan sejumlah link berita yang dijadikan sebagai bukti, Lisman meminta MKD menyelidiki kasus tersebut. Dia menduga bahwa asal suara ‘sayang’ saat rapat berasal dari ponsel Aboe.

“Ya kami menduga, dan tergantung nanti MKD memanggil pihak-pihak, kan ada CCTV semua siaran ulang yang bisa nanti diputar ulang,” kata dia.

Lisman menolak jika insiden suara ‘sayang’ dalam rapat itu merupakan ketidaksengajaan. Menurut dia, dalam rapat bareng Kapolri, anggota dewan mestinya bisa menunjukkan keseriusan dengan tak menggunakan ponsel dan menjauhkannya dari meja.

Dia mengingatkan bahwa kasus Sambo telah menjadi perhatian publik. Alih-alih jadi bahan lelucon, DPR mestinya mengusut dugaan isu Konsorsium 303 judi online pimpinan Ferdy Sambo.

“Kita aja kalau rapat sebagai organisasi handphone kan jauh juga dari microphone handphone itu ada di dalam saku atau di tempat yang khusus. Apalagi ini parlemen harusnya mereka menunjukkan keseriusannya,” katanya.