KALIMANTANLIVE.COM – Cuaca panas ekstrem harus diantisipasi sebaik mungkin agar ibu hamil tak mengalami heatstroke yang dapat berakibat fatal terhadap kehamilan.
Saat hamil, khususnya saat cuaca panas dan terik, bisa menjadi pengalaman yang tidak menyenangkan bagi ibu hamil.
Melakukan aktivitas sederhana seperti menjemur pakaian atau naik tangga bisa terasa berat dan tak nyaman. Tak hanya itu, peningkatan suhu bisa berisiko terhadap kehamilan.
# Baca Juga :Terungkap Identitas Pengemudi Mercy yang Halangi Ambulans Bawa Ibu Hamil, Polisi: Sesuai Nomor Polisi, Inisialnya D
# Baca Juga :VIRAL Mobil Mewah Halangi Ambulans Bawa Ibu Hamil di Tol Tangerang-Merak, Sopir Mercy Nyaris Pukul Sopir Ambulans
# Baca Juga :VIRAL Ibu Hamil Duel dengan Begal di Pebayuran Bekasi, Pertahankan Kunci Motor hingga Nyungsep Lalu Hiteris
# Baca Juga :VIRAL Ngidam Pengen Naik Moge Polisi, Ibu Hamil Datangi Kantor Polisi, Kegirangan Saat Dibonceng Polantas
Selain itu, cuaca panas ekstrem disebut juga dapat membuat ibu hamil kelelahan hingga berat badan bayi sangat kecil saat lahir.
Beberapa penelitian menunjukkan suhu yang lebih tinggi menyebabkan lebih banyak bayi baru lahir dengan berat badan rendah yang dapat mengakibatkan komplikasi kesehatan bagi bayi.
Sebuah analisis baru-baru ini dari 70 penelitian yang dilakukan di 27 negara, termasuk Amerika Serikat, Cina, beberapa negara Eropa, dan Afrika Sub-Sahara, menunjukkan untuk setiap kenaikan suhu 1,8 derajat Fahrenheit, risiko kelahiran prematur dan lahir mati melonjak sebesar 5 persen.
“Ini mungkin tampak kecil,” kata penulis utama penelitian Matthew Chersich sekaligus seorang ahli epidemiologi di University of Witwatersrand di Afrika Selatan, seperti dikutip di CNNIndonesia.com.
Namun penelitian menunjukkan ancaman yang berkembang. Dengan perubahan iklim yang memicu peristiwa panas ekstrem yang lebih sering dan intens di seluruh dunia, menjadi jelas bahwa kenaikan suhu dapat semakin membahayakan wanita hamil, ibu baru, dan bayi baru lahir, seperti dikutip National Geographic.
Meskipun para ilmuwan belum dapat mengidentifikasi periode kehamilan yang paling berisiko ketika panas yang ekstrem, paparan panas yang akut tampaknya menyebabkan masalah baik pada tahap awal maupun tahap akhir kehamilan.
Menurut ahli epidemiologi di University of Nevada Lyndsey Darrow, penelitian menjadi rumit dikarenakan tidak ada tanda unik seperti mutasi spesifik yang dapat menghubungkan kelahiran mati atau kelahiran prematur individu dengan peristiwa panas yang ekstrem.
Para peneliti telah menggunakan kumpulan data jangka panjang untuk mencocokkan durasi dan tanggal kehamilan dengan data suhu untuk memahami seberapa banyak dan aspek mana dari panas yang dapat memengaruhi kehamilan, seperti intensitas atau durasinya.








