Menurut Alim, Sebelum adanya kenaikan BBM, sejumlah bahan kebutuhan pokok sudah terjadi naik duluan.
“Kemaren harga telur Rp 25 ribu, sekarang sudah Rp 30 ribu, naik BBM lagi jadi Rp 32 ribu. Sedangkan kami dari teman-teman tidak ada yang dapat BLT, kebanyakan dari objek online hanya 25 persen orangnya,” kata Alim.
Jika kenaikan BBM sendiri tak dibarengi kenaikan lain, menurutnya tak jadi masalah. Namun justru kenaikan ini sendiri juga berdampak pada kenaikan lainnya.
“Sekalipun BBM naik, jika 9 bahan pokok bisa ditekan dengan murah. Tidak dibarengi kenaikan air dan listrik, dan lainnya itu bisa. Tapi kami menunggu malah tidak dijawab, yang dijawab masalah bph migas,” jelasnya.
Ditanya awak media terkait agenda RDP yang dihadiri ini. Ia menjawab tak ada pentingnya bagi mereka menghadiri agenda tersebut.
“Masih banyak masalah sosial yang harus dibahas lagi, kami adalah pelaku langsung yang kena, kami kepala rumah tangga yang mencari nafkah disitu. Kami justru tidak menjawab jawaban itu,” ungkapnya.
Seperti diketahui, rapat ini merupakan agenda khusus yang diundang langsung oleh Pimpinan Daerah DPRD Provinsi Kalsel kepada sejumlah pihak terkait soal aksi pada kenaikan BBM belakangan ini.
Sementara itu, menanggapi tuntutan dari perwakilan kalangan Ojol, Kepala Dinas Perdagangan Kalsel Bierhasani mengatakan, untuk membantu masyarakat terhadpa kenaikan harga kebutuhan pokok, pihaknya bakal menggelar pasar murah.
“Kita akan menggelar pasar murah untuk membantu masyarakat mengatasi kenaikan harga kebutuhan pokok. Kami akan berkoordinasi dengan kabupaten dan kota juga menggelar pasar murah,” ujarnya.
Kalimantanlive.com/Ilham
Editor : elpian







