KALIMANTANLIVE.COM – Ketua Umum Relawan Ganjar Pranowo, Ganjarist, Eko Kuntadhi menghina ustazah Imaz Fatimatuz Zahra alias Ning Imaz dari Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, Jawa Timur.
Akibat penghinaan itu, membuat seluruh jemaah Nahdlatul Ulama (NU) di seluruh Pulau Jawa menjadi marah.
Melihat kondisi itu, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo pun merespons penghinaan yang dilakukan relawannya.
# Baca Juga :Bentrok Massa dan Petugas Gabungan Warnai Simulasi Pengamanan Pemilu Serentak 2022 di Banjarmasin
# Baca Juga :ATURAN BARU Pemilu 2024, Eks Koruptor Boleh Jadi Calon Anggota DPR di Pemilu 2024
# Baca Juga :Sri Mulyani Sebut Prioritas APBN 2023 untuk Bangun IKN dan Persiapan Pemilu 2024
# Baca Juga :Obat Coid-19 Sudah Beredar di China, Dijual Seharga Rp659 Ribu
Namun, Ganjar mengaku hanya mengenal Eko sebatas pegiat media sosial saja.
Ia menyatakan selama ini dirinya tidak ada hubungan apapun dengan aktivitas Eko sebagai Ketua Umum Relawan Ganjar Pranowo, Ganjarist.
“Soal aktivitas Mas Eko sebagai Ketua relawan Ganjarist, saya tidak pernah mengikuti dan tidak ada hubungan apapun,” kata Ganjar dalam keterangannya, Kamis (15/9).
Namun Ganjar mengapresiasi sikap Eko yang mengakui kesalahannya dan telah meminta maaf. Dia berharap perkara ini segera selesai dan tidak melebar isunya.
Tak hanya itu, ganjar merasa dekat dengan keluarga besar Ning Imaz dan keluarga suaminya, Gus Rifqil Moeslim.
“Saya dekat dengan Gus Rifqil Moeslim maupun ayah beliau KH Suyuti Murtadho dan keluarga besar PP Manbauk Hikmah Kaliwungu Kendal. Begitupun dengan Ning Imaz dan keluarga besar PP Lirboyo,” jelas Ganjar, seperti dikutip di CNNIndonesia.com.
Saat keduanya menikah, Ganjar mengatakan didapuk jadi perwakilan keluarga Kaliwungu untuk memberi sambutan.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa telah berkomunikasi intens dengan Gus Rifqil. Ganjar berharap persoalan ini dapat diselesaikan dengan baik.
Sementara itu, Eko Kuntadhitelah menyatakan mundur dari jabatannya sebagai Ketua Umum Ganjarist.
Ia menyadari hubungan Ganjar dengan jemaah Nahdlatul Ulama (NU) sangat dekat. Hal yang sama juga terjalin dengan keluarga besar Pesantren Lirboyo.







