IPK Kalsel Sebut 4.2 Persen Siswa di Indonesia Pernah Berpikir Bunuh Diri, Ini Penyebabnya

BANJARMASIN, KALIMANTANLIVE.COM – Memperingati Hari Pencegahan Bunuh Diri Sedunia yang jatuh pada Sabtu (10/9/2022) lalu, SMPN 2 Alalak Kabupaten Barito Kuala (Batola) mengikuti Psikoedukasi yang dilaksanakan Ikatan Psikolog Klinis (IPK) Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel) bekerjasama dengan Dinas Kesehatan Kabupaten Batola.

“Dari mereka itu perlu menjadi perhatian, karena pentingnya kesadaran diri para remaja agar dapat mengelola pikiran, perasaan dan perilakunya saat menghadapi tantangan dan permasalahan,” ucap Melinda Bahri selaku Psikolog Klinis Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Moch Ansari Saleh Banjarmasin sekaligus Ketua IPK Klinis Provinsi Kalsel di Banjarmasin, Jumat (16/9/2022).

# Baca Juga :Cuaca di Kalsel Hari Ini, BMKG: Tabalong Hujan Petir, Banjarmasin dan Banjarbaru Cerah

# Baca Juga :Konflik dengan PD Baratala, Kuasa Hukum PT BTG Layangkan Surat Tembusan ke Kapolda Kalsel

# Baca Juga :Jajaran DPRD Kotabaru Kagum akan Kenyamanan dan Kelengkapan di Dispersip Kalsel

# Baca Juga :Bahan Pokok dan Pasar Murah Diyakini Bisa Kendalikan Inflasi Kalsel

Melinda mengatakan, masalah kesehatan jiwa merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat yang cenderung meningkat, terutama di masa pandemi COVID-19 sekarang ini.

“Dampak psikologis tersebut dialami anak-anak hingga lanjut usia dan kasus di lapangan yang sering ditemukan kesehatan remaja, diantaranya bulliying, pernikahan dini, kekerasan seksual, napza, kecemasan dan stres,” ungkap Melinda.

Dijelaskan Melinda, depresi terjadi karena stres dan kecemasan berkepanjangan yang menyebabkan terhambatnya aktivitas dan menurunnya kualitas fisik.

“Pencegahan depresi dapat dilakukan dengan pengelolaan stres. Pengelolaan stres masing-masing individu berbeda, ada yang mengelola stres dengan melakukan kegiatan yang disukai, seperti hobi, melakukan kegiatan refreshing, mendekatkan diri dalam konteks spiritual keagamaan hingga bercerita kepada orang lain untuk mengurangi beban stres,” sebut Melinda.

Dilanjutkan Melinda, pada usia remaja 15 – 24 tahun memiliki persentase depresi sebesar 6,2 persen dan depresi berat akan mengalami kecenderungan untuk menyakiti diri sendiri (self harm) hingga bunuh diri sebesar 80 sampai 90 persen, dan kasus bunuh diri di Indonesia bisa mencapai 10.000 atau setara dengan setiap satu jam terdapat kasus bunuh diri.

Menurut ahli suciodologist 4.2 persen siswa di Indonesia pernah berpikir bunuh diri. Pada kalangan mahasiswa sebesar 6,9 persen mempunyai niat untuk bunuh diri dan 3 persen lainnya pernah melakukan percobaan bunuh diri.

“Depresi pada remaja bisa diakibatkan oleh beberapa hal, diantaranya tekanan dalam bidang akademik, bullying, faktor keluarga dan permasalahan ekonomi,” kata Melinda.(*/kalimantanlive.com)

editor : NMD
sumber : diskominfomc.kalselprov.go.id