JAKARTA, KALIMANTANLIVE.COM – Meski mendapat kritik dari sana sini, karena bakal menimbulkan masalah baru, namun Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) tetap melakukan uji coba konversi gas LPG 3 kilogram (kg) ke kompor listrik 1.000 watt.
Pasalnya saat ini yang menggunakan elpiji 3 kg adalah orang yang berasal dari golongan tidak mampu dengan daya listrik 450 watt, 900 watt dan 1.200 watt, sementara kompor listrik berdaya 1.000 watt.
Plt Direktur Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian ESDM Dadan Kusdiana mengatakan uji coba itu baru dilakukan di tiga kota. Kota itu adalah Denpasar, Solo dan satu lainnya di Sumatera
# Baca Juga :Pemko Banjarbaru Targetkan Penyebaran LPG 3 Kg Tepat Sasaran
# Baca Juga :Harga Pertamax Turbo Resmi Naik, Segini Tarif BBM Subsidi dan LPG 3 Kg
# Baca Juga :Hiswana Migas Kalsel Jamin Stok LPG 3 Kg Aman Selama Ramadhan, Sarankan Beli di Pangkalan Resmi
# Baca Juga :NAIK Rp 24.000, Harga LPG 12 Kilogram Tembus Rp 199.000, Segini Harga di Kalimantan Selatan
“Iya betul, sedang diuji coba oleh PLN di Denpasar, Solo dan disiapkan di salah satu kota di Sumatera. Ini uji coba untuk melihat keberterimaan masyarakat sekaligus mempelajari aspek keteknikannya, misalkan berapa kapasitas daya tungku yang cocok.,” katanya kepada CNNIndonesia.com, Senin (19/9).
Dadan pun menuturkan proses uji coba ini juga akan melihat kapasitas kompor yang tepat. Dengan begitu, masyarakat akan lebih nyaman dalam memasak.
Ia pun menjelaskan saat ini yang sedang diuji coba adalah kompor listrik dua tungku dengan kapasitas 1.000 watt.
“Uji coba ini dilakukan oleh PLN, jadi dibuatkan jaringan khusus di rumah untuk kompor,” jelas Dadan.
Sebelumnya, Direktur Utama PT PLN (Persero) Darmawan Prasodjo mengatakan negara bisa hemat Rp10,21 triliun per tahun bila 15,3 juta pengguna LPG 3 kg beralih ke kompor induksi atau listrik.
Ia menyebut penghematan ini berasal dari pengurangan impor LPG yang terjadi akibat peralihan tersebut. Oleh sebab itu, ia berharap program ini bisa segera diimplementasikan.
“Kita bisa hemat biaya impor LPG dengan program konversi LPG mulai 2028 Rp10,2 triliun per tahun,” ujar Darmawan dalam ruang rapat Komisi VII.
Menurutnya, penghematan baru bisa dinikmati mulai 2028 atau setelah pengguna kompor listrik mencapai 15,3 juta orang di tahun tersebut.
Selain itu, penghematan tak hanya terjadi pada anggaran negara, tapi juga masyarakat. Berdasarkan hitungan PLN, biaya masak bisa turun 10-15 persen per bulan dengan kompor listrik.
“Harga keekonomian listrik adalah Rp11.792 per 1 kg ekuivalen kwh. 1 kg Rp4.530 yang dibayar masyarakat. Per kalori yang digunakan masyarakat yang Rp5.250 akan lebih murah, Rp4.530 per kg per kwh. Ini masyarakat akan lebih hemat sekitar 10-15 persen daripada LPG,” jelasnya.
Dikritik dan Menimbulkan Masalah Baru
Rencana konversi tabung gas elpiji 3kg ke kompor listrik 1.000 watt menuai kritik karena akan menimbulkan masalah baru.
Pasalnya saat ini yang menggunakan elpiji 3kg adalah orang yang berasal dari golongan tidak mampu. Lalu kompor listrik berdaya 1.000 watt ini akan sulit digunakan oleh masyarakat yang menggunakan daya listrik 450 watt, 900 watt dan 1.200 watt.
Pemerintah menyebut kebijakan sedang diuji coba oleh PLN di sejumlah wilayah. Plt Direktur Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian ESDM Dadan Kusdiana mengungkapkan dalam uji coba di tiga kota.
“Saat ini masih uji coba di 3 kota, masih dipelajari respons masyarakat serta juga aspek teknis dari kompor induksi tersebut,” kata dia kepada detikcom, Sabtu (17/9/2022).
Dadan juga menjelaskan saat ini yang sedang diuji coba adalah kompor listrik 2 tungku dengan kapasitas 1000 watt. “Uji coba ini dilakukan oleh PLN, jadi dibuatkan jaringan khusus di rumah untuk kompor,” jelas dia.
Sebelumnya diberitakan pada bulan Juli 2022 Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo mengatakan program konversi kompor ini dilakukan PLN sebagai salah satu upaya mengurangi beban negara atas impor LPG yang tiap tahun naik. Apalagi, lanjutnya, selama ini khususnya LPG 3 kilogram merupakan barang subsidi yang masih dijual bebas sehingga tidak tepat sasaran dan menjadi beban APBN.
“Melalui konversi kompor ini langsung bisa menyelesaikan tiga persoalan sekaligus. Mengurangi ketergantungan impor LPG dengan energi berbasis domestik, yaitu listrik dan juga mengurangi beban APBN yang selama ini untuk mensubsidi LPG ini,” papar Darmawan.
Editor : NMD/Kalimantanlive.com







