Pertalite Dikeluhkan Karena Cepat Habis, Netizan: Kirain Cuma Perasaan Gue Doang!

Selanjutnya beri tanda pada permukaan yang sama dan volume yang sama. Sekitar satu jam kemudian cek kembali mana yang lebih cepat turun.

Kalau lebih cepat Pertalite maka menurutnya betul bahwa Pertalite tersebut lebih cepat menguap dibanding dengan Pertamax.

Hal ini karena dalam tabel spesifikasi bisa dilihat Pertamax dan Pertalite memiliki spesifikasi tekanan uap yang hampir sama sehingga seharusnya pada keduanya tak akan ada banyak perbedaan.

Meski demikian perlu diketahui bahwa memang tetap ada kemungkinan Pertalite lebih cepat menguap daripada Pertamax.

Hal ini karena angka spesifikasi tekanan uap pada Pertalite 45-69 kPa, sedangkan Pertamax 45-60 kPa. Ketika tekanan uap semakin tinggi angkanya, maka akan semakin mudah menguap.

Adapun pengujian kedua adalah dengan menimbang menggunakan gelas. Timbang gelas kosong dan gelas yang sudah diisi dengan volume tertentu.

Selanjutnya kurangi berat gelas yang diisi dengan berat gelas kosong untuk mendapatkan berat dari bahan bakar yang dihitung. Selanjutnya bagi hasil yang didapat dengan volume sehingga nanti hasilnya kg/liter.

Jika sudah, maka bandingkan dengan spesifikasi massa jenis bahan bakar.

Meski demikian, ia menekankan perlu dicatat bahwa percobaan di atas perlu dilakukan pada suhu 15 derajat celcius karena standar spesifikasi perhitungan dilakukan dalam suhu demikian.

Jika tidak, menurutnya bisa menggunakan pembanding tabel ASTM liter 15.

“Tinggal bandingkan tadi mengukur temperatur berapa, density-nya berapa, tinggal lihat di tabel density berapa. Cocok nggak dengan yang ada. Kalau lebih kecil, oh ya pantas jadi lebih boros,” terangnya.

Mungkinkah oktan diturunkan?
Terkait tudingan sejumlah warganet yang menduga bahwa oktan Pertalite diturunkan, menurutnya hal demikian memiliki kemungkinan terkecil.

Karena menurutnya hal demikian akan cepat dirasakan oleh kendaraan.

Selain itu, menurutnya Pertamina saat ini sudah di-upgrade untuk menghasilkan RON tinggi.

Sehingga, seandainya menurunkan RON maka harus membeli nafta dengan RON rendah, padahal di pasaran saat ini sudah tidak ada.

“Rasanya nggak mungkin, karena malah nambah cost kalau nurunin RON,” ujarnya.

Editor : NMD/Kalimantanlive.com